Kamis, 27 September 2012

Seandainya


Seandainya, waktu mengatur kita bertemu sejak dulu,
maka tak akan mungkin aku harus berkali kali mencintai orang yang salah sebelum kamu hadir
Seandainya jika kamu datang saat aku belum mengerti apapun tentang cinta, 
maka dulu tak akan mungkin aku menjadi perempuan yang rapuh

Seandainya kamu mengenalku lebih awal daripada orang orang yang pernah menyakitiku,
maka tak akan mungkin aku menjadi seorang yang cengeng

Seandainya kamu menyayangiku setulus ini sejak dulu, 

maka tak akan mungkin aku pernah begitu lelah mencintai orang orang beromong kosong

Seandainya dari dulu aku menemukan orang yang begitu baik sepertimu, 

maka tak mungkin aku pernah menyayangi orang orang jahat

Seandainya dari dulu aku menemukan malaikat penyelamat sepertimu, 

maka tak akan mungkin aku terluka kesekian kalinya

Seandainya aku memilikimu sejak awal, 

maka tak akan mungkin ada kesempatan bagimu untuk memiliki perempuan lain

Seandainya aku adalah orang pertama yang kamu cintai, 

maka tak akan mungkin aku harus cemburu ketika orang orang sebelumku masih peduli denganmu

Seandainya aku adalah orang yang sekarang kamu cintai, 

apakah mungkin kamu akan menyakitiku esok hari?

Seandainya aku adalah orang yang kaupilih tua bersamamu, 

apakah kamu akan menjagaku dan tak akan meninggalkanku seperti yang kamu lakukan pada orang sebelumku?

Seandainya kamu bosan denganku, apakah kamu akan mencari seseorang yang mampu menyayangimu lebih dari caraku sekarang?

Seandainya kamu terlanjur menyayangi orang lain tetapi tak mampu melepaskanku
—seperti dulu yang kamu lakukan pada seseorang sebelumku—lalu siapa yang kamu pilih? 

Seandainya aku bukan seperti yang kamu lihat sekarang, apakah kamu akan menyayangiku?

Seandainya kita tak pernah bertemu dan aku tak tahu kamu ada di dunia ini,
apakah kamu akan mencari cari orang sepertiku?

Seandainya aku tak ada disisimu lagi untuk selamanya, akankah kamu akan tetap merindukanku dan berdoa untukku dalam sela kebahagiaan yang kamu temukan kemudian?

Seandainya kata ‘andai’ tak pernah ada, 

Maka tak akan mungkin aku mereka reka ketakutanku akan kehilanganmu
Maka tak akan mungkin aku menangis ketika seharusnya aku tak perlu melakukannya.

Maka tak akan mungkin kamu pergi,
Sayang


- Amanta Ayu, Sa

Cinta Yang Baik


Cinta yang baik, mereka tak akan membuatmu takut kehilangan, karena dia yang mencintaimu, tak akan pernah berhenti menjagamu dari kehilangannya

Mereka tak akan membuatmu cemas mengharap 

Karena dia yang mencintaimu, tak akan pernah membiarkanmu terlalu lama dalam ketidak-pastian 

Cinta yang baik, mereka tak akan membuatmu sedih menangis
Karena dia yang mencintaimu, tak akan pernah membiarkan dirinya menjadi alasan ketidak-bahagiaanmu.

Mereka tak akan membuatmu kehilangan dirimu sendiri
Karena dia yang mencintaimu, tak akan memintamu melakukan hal-hal yang tidak kamu suka

Cinta yang baik, mereka tak akan membuatmu jauh dari sang pencipta

Karena dia yang mencintaimu, tak akan pernah lupa mengarahkanmu kembali ke jalan-Nya

Mereka tak akan membuatmu tergesa-gesa

Karena dia yang mencintaimu, tak akan pernah membuatmu benci pada waktu, sekali pun kamu tengah menunggunya

Cinta yang baik, mereka tak akan membuatmu berkorban

Karena dia yang dicintaimu, tak akan pernah membiarkanmu memberi seorang diri
Itu karena ia mengerti bahwa cinta, tak pernah layak untuk meminta

Ketika seperti apa pun rupamu, di matanya kamu adalah yang paling indah 
Ketika seperti apa pun isi hidupmu, di matanya kamu adalah harta yang terlalu berharga 
Ketika seperti apa pun kelemahanmu, baginya kamu adalah pelengkap hidupnya 
Maka jangan biarkan dirimu tidak dicintai dengan baik, hanya karena kamu terlanjur mencintainya dengan baik
Temukan ia yang setia, memelukmu hingga kehabisan usia

Hey!

Cinta yang baik, adalah hanya ketika kamu dicintai kembali dan jangan mencari sempurna
karena mereka yang sempurna di matamu belum tentu bisa sempurna melengkapi kelemahan dirimu, seutuhnya

Tulisan ini untuk Kamu, 

Yang bola matanya adalah tempat paling romantis dalam ingatanku 

Selamat menemukan cinta yang baik
Selamat dijatuhi cinta yang baik
Karena ini adalah doa
Walaupun aku tahu cinta itu bukan aku
Itulah kenapa aku akan berhenti
Berhenti mencintaimu dengan bahagia

Terima kasih sayang atas segala ingatan baik
Atas segala harapan-harapan yang belum sempat untuk jadi kenyataan
Atas gelak tawamu yg merdu
Atas cerita-cerita lucumu yang tak terlupakan
Atas segala kesempatan untuk dapat pernah memimpikan kita

Semoga kelak, kamu menemukan padanya, apa yang tidak kamu temukan pada diriku.

Tuhan memelukmu. 
Tuhan memeluk kita.

Aku menulis ini, ketika kemarin aku masih mencintaimu


- Amanta Ayu, Sa

Minggu, 23 September 2012

Sipnosis Novel

Aku fikir sipnosis itu menentukan seberapa indah buku itu. Jadi, aku tulis saja yaa semua sipnosis di coverback novel koleksiku..

Goodbye Hapiness by Arini Putri
"Kau dan aku tidak ditakdirkan untuk berada dalam satu kisah yang indah. Percaya atau tidak, begitulah kenyataannya. Jangan menyangkalnya karena akan sia-sia. Sama seperti berjalan di atas pecahan kaca, setiap langkah kita sesungguhnya hanya akan menuai luka.
Kau dan aku seperti tengah mencoba untuk membirukan senja yang selalu merah. Kita sama-sama berusaha, namun tidak bisa mengubah apa-apa. Senja tetap berwarna merah dan hatiku masih saja berkata tidak. Maka, berhenti dan renungkanlah ini semua sejenak. Tidak ada gunanya memaksa. Ini hanya akan membuatmu tersiksa dan aku menderita.
Lantas, kenapa kita tidak menyerah saja? Bukankah sejak awal semuanya sudah jelas? Akhir bahagia itu bukan milik kita."

Perhaps You by Stephanie Zen
"Tak tahukah kau seperih apa perasaan hati yang tak berbalas? Menanti sesuatu yang tak kunjung datang?
Hari berganti hari, tapi arah hatiku tak pernah berubah—selalu tertuju padamu. Aku tak pernah jenuh menunggu... menunggu untuk kau cintai. Tapi kau hanya menganggapku lalu. Seperti tak kasat mata aku di matamu.

Terkadang lelah menyuruhku menyerah, memintaku berhenti melakukan perbuatan sia-sia dan mulai mencari cinta baru. Tapi bagaimana mungkin aku sanggup melakukannya, kalau semua tentangmu mengikuti seperti bayangan menempel di bawah kakiku? Dan bagaimana pula caranya membakar habis semua rindu yang bertahun-tahun mengendap di hatiku?

Aku berharap mendapatkan jawaban darimu. Tapi kau tetap membisu, membuatku lebih lama menunggu"

Rain Over me by Arini Putri
"Ini cinta yang sulit. Kau dan aku ditakdirkan tak saling memiliki. Aku tak bisa mencintaimu seperti yang aku mau. 
Namun, ketika dia hadir dalam hidupmu—di antara kita—aku pun sadar kebahagiaanku pelan-pelan akan memudar. Betapa tidak, dia bisa memberimu cinta dan perhatian. Menggenggam tanganmu hingga akhirnya kau terlelap di sisinya. Dia melakukan semua yang ingin aku berikan kepadamu. 


Dan hari ini, aku memandangi senja pertama yang kunikmati tanpa dirimu. Aku belajar berbahagia untukmu. Dia yang paling tepat. Aku tahu itu—tapi..., bagaimana denganku? Bagaimana caraku bahagia tanpa dirimu?"

If You Were Mine by Clara Canceriana
"Kamu adalah jawaban bagi semua pertanyaan.
Alasan di semua hal terbaik dalam hidup.
Harapan bagi mimpi-mimpiku.
Kekuatan saat aku sendiri meragukan kemampuanku....

Jadi salahkah jika aku tak ingin siapa pun memilikimu?
Atau, haruskah aku mencintaimu untuk membuktikan keegoisanku?"

Here, After by Mahir Pradana
"SUATU SAAT, cinta itu pernah ada. Dan aku melihatnya pergi tanpa sempat kucegah sama sekali.
Sejak itu, hari-hari terasa sulit untuk dijalani. Aku bahkan sulit untuk tersenyum pada bayanganku sendiri di cermin -- karena saat itu aku tahu, hanya aku sendiri yang terlihat di situ. Meskipun kedengarannya tak masuk akal, sering aku berharap bisa membalikkan waktu. Aku bahkan bersedia memberikan apa yang selama ini terpendam begitu saja di hati.

Suatu saat, cinta itu pergi. Menyisakan sejuta penyesalan karena tak cukup sigap menahannya tetap berada di sini.."


Percaya by Mahir Pradana
"Semua orang punya cara tersendiri untuk melindungi orang yang disayanginya. Aku merasa harus memagari hidupmu dari segala hal yang mungkin bisa membuatmu terluka. Seperti berada di akuarium bening, semua terlihat sempurna dan sederhana untukmu. Memang begitulah inginku; kau berbahagia, merasa memiliki dunia dalam genggamanmu.

Tapi sekarang kau meminta aku jujur. Kau bilang, aku mengkhianati perasaanmu. Kau juga bilang, semua yang kulakukan selama ini menghancurkan hubungan kita. Dinding kaca itu pun hancur berkeping-keping, menyisakan beling yang melukai kaki kita. Tak ada lagi yang tersisa, kecuali bibirmu yang gemetar saat berusaha terlihat tegas di hadapanku.

Aku ingin menangis, tapi air mataku menolak keluar. Bagaimana caraku mengatakan yang sebenarnya? Bagaimana caraku untuk membuatmu percaya: justru karena menyayangimu teramat sangat, aku harus berbohong padamu?"

Hujan dan Teduh by Wulan Dewatra
"Kepadamu, aku menyimpan cemburu dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak dipenuhi ragu.
Terlalu banyak ruang yang tak bisa aku buka. Dan, kebersamaan cuma memperbanyak ruang tertutup.

Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan. Ya, jalanmu dan jalanku. Meski, diam-diam, aku masih saja menatapmu dengan cinta yang malu-malu.

Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.

Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan..."

Beautiful Mistake by Sefryana Khairil
"Mencintaimu bukanlah sesuatu yang kuharapkan terjadi.
Aku tak ingin harapan datang lagi, berkunjung di hati, diam untuk beberapa waktu, lalu meninggalkanku dalam kesedihan berlipat-lipat.

Aku tahu pasti ini kesalahan yang seharusnya tidak boleh terjadi.

Tapi kau hanya memelukku, tanpa suara. Menggenggam tanganku erat seolah tak ingin melepasnya lagi. Dan sebelum aku berhasil menyangkal cintamu lagi, aku menyadari kau meninggalkan sesuatu di tanganku. Sesuatu yang kukenali sebagai... harapan.

Dan, kali ini, aku ingin menggenggamnya, memilikinya sekalipun seandainya itu salah."

Believe by Morra Quatro
"Kalau bagimu merindukanku adalah hal yang berat, harusnya kau mencoba bagaimana caraku merindukanmu. Kau adalah matahari yang menghangatkan pagiku, dan bulan yang menerangi selama tidur malamku. Tak bosan aku merapalmu dalam doa-doaku, berusaha mengetuk hati Tuhan supaya berbaik hati mengirimkanmu untukku.
Tak perlulah kamu tahu berapa banyak air mata yang membasahi bantal saat khayalku terbawa dalam kenangan tentangmu. Dan, aku pun tak ingin kamu ikut sedih ketika tahu betapa dinginnya hari-hari tanpa senyummu....

Jadi, beri tahu aku, kapan kau akan kembali?Atau, haruskah aku lagi-lagi mengganggu Tuhan sampai Dia mengabulkan permintaanku"

Memori by Whindry Ramadhina
Cinta itu egois, sayangku. Dia tak akan mau berbagi.

"Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini.

Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia—cinta juga tidak. Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman.

Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi."

Sweet Nothings by Sefryana Khairil
"Aku menyukaimu. Aku membencimu. Aku tak bisa menerima setiap perubahan yang terjadi dalam diriku saat bertemu denganmu.
Tapi kau seperti air, mengalir begitu saja di dalam hidupku. Dan sebentar saja, kau sudah jadi bagian yang tak bisa kusisihkan dari hari-hariku.

Sebagian dariku tak siap tunduk begitu saja di bawah pesonamu. Dan niatmu menyaru bersama senyuman dan tenang sikapmu.
Kau membiarkan aku menebak-nebak ke mana kau akan membawa hubungan ini. Aku bertanya-tanya—dan tak bisa berhenti menyipit curiga ke arahmu.

Sampai suatu saat, kau membuka rahasia hatimu.

Kau ingin menggantikannya—dia yang sudah meninggalkanku. Kau bilang lagi, bisa mencintaiku seperti yang aku mau.
Aku mendengus, menahan diri supaya tidak tertawa. Betapa tidak, kau baru saja mengatakan hal yang tak masuk akal.

Cintalah yang melukaiku dulu. Bagaimana mungkin kau bisa meyakinkanku bahwa kali ini cinta jugalah yang akan menyelamatkanku dari kesepian ini?"

Seandainya by Windy Puspitadewi
"Aku akan menjadi buih.... 
Seperti putri duyung di dongeng itu, kelak aku akan menjadi buih dan membawa mati semua rahasia hatiku. Sebut aku pesimis, tapi sudah terlalu lama aku menunggu saat yang tepat untuk kebenaran itu. Dan selama itu, aku melihat bagaimana benih-benih perasaanmu padanya pelan-pelan tumbuh hingga menjadi bunga yang indah.

Aku kalah bahkan jauh sebelum mulai angkat senjata. Kau ada di hidupku, tapi bukan untuk kumiliki. Kerjap mata indahmu hanya untuk dia dan selamanya itu tak akan berubah. Meski begitu, kenapa aku tidak berusaha berbalik dan mencari jalan keluar dari bayang-bayang dirimu?

Jika suatu hari kau menyadari perasaanku ini, kumohon jangan menyalahkan dirimu. Mungkin memang sudah begini takdir rasaku. Cintaku padamu tak akan pernah melambung ke langit ketujuh. Aku hanya akan membiarkan buih-buih kesedihanku menyaru bersama deburan ombak laut itu. Karena inilah pengorbanan terakhirku:membiarkanmu bahagia tanpa diriku...."


Bittersweet Love by Netty Virgiantini, Aditya Yudis
"Merindukanmu adalah satu-satunya kata yang dapat menggambarkan rasa ini. Dan semuanya dimulai sejak aku kehilanganmu.

Ketika waktu membawakan pilihan-pilihan lain untukku, langkahku masih terbelit oleh ingatan tentangmu. Kasih sayang yang seluruhnya milikku pun harus terbagi. Bahkan, rumah tak lagi menjadi tujuanku untuk pulang.

Kini aku menyadari bahwa semua sudah berganti dan yang bisa kulakukan hanyalah menghadapi. Semua yang telah lewat tak mungkin bisa kembali. Apa yang kupikir lenyap, nyatanya tertutup emosi. Butuh waktu untuk belajar mencintai lagi. Dengan penuh keyakinan diri aku melakukannya.

Menerima. Cinta sesederhana itu saja"


Once Upon A Love by Aditya Yudis
"Tak ada yang bisa melakukan sebaik dirimu. Pertahananku begitu rapuh akan pesonamu. Potongan-potongan kejadian indah berlompatan, menyesaki benakku dengan imaji dirimu; dari caramu membuatku tersipu, tatapan dalam langsung ke arahku, sampai kata-kata manis yang kuingat selalu.

Merindukanmu membuatku sempat lupa kenapa aku harus melupakanmu. Kau cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kekasih yang tak pernah kumiliki. Kau memori yang harusnya kusimpan di dalam kotak dan kubuang jauh-jauh….

Dan di suatu hari tak terduga itu, aku tersenyum dan menangis pilu karena dirimu"

Mereka Bicara




Mereka berbicara tentang pertemuan
Ketika nama
Wajah
Senyum
Dan detailnya mulai dikenal
Mereka berbicara tentang perkenalan
Ketika pengalaman
Hidup
Kesenangan
Dan kesedihan terus dihafal
Mereka berbicara tentang hati
Ketika suka
Duka
Tangis
Dan lara berputar dalam jiwa
Mereka berbicara tentang persahabatan
Ketika waktu
Putaran
Ketulusan
Dan kesetiaan terasa dalam setiap keindahan
Mereka berbicara tentang cinta
Aku diam
- Amanta Ayu, Sa

Aku




Aku,

orang yang lebih suka menuangkan perasaan melalui rangkaian kata-kata
Entah itu puisi ataupun sebuah cerita singkat pada kertas tak bernoda
Jika karya itu selesai, aku menatapnya, membacanya,
untuk kemudian meninggalkannya
Aku,
orang yang lebih suka meluapkan amarah dengan berteriak
Membiarkannya menguap bersama hembusan angin
Tapi ketika tak ada angin yang berhembus
Aku akan menggila, menyanyikan lagu dengan keras,
kemudian menyalahi diri sendiri
Aku,
orang yang lebih suka menghilangkan semua kegalauan dan kegundahan hati dengan diam
Melipatnya sekecil mungkin dan kuletakkan di saku hati yang paling dalam
Namun jika saku itu telah penuh, aku memilih menunduk
Mengingat semuanya, kemudian menangisinya,
walau aku sadar itu tak berguna
Aku,
orang yang lebih suka mengobati kerinduan dengan kenangan
Berusaha mengingat serangkaian kesalahan terindah yang tak pernah mendengar kata maaf
Dan jika perasaan seperti ini datang lagi,
aku sadar bahwa aku mendambakan saat-saat indah dulu,
lalu merindukanmu...

- Amanta Ayu, Sa

Cerita Si Jendela


Jendelanya terlilit kabut abu-abu
Berenang-renang pelan mendayu-dayu
Menggoda, merayu
Merajam, menikam sewaktu-waktu



Jendela bernyanyi mengalun haru memanggil hujan
Kacanya berderak sekali-kali terhanyut lirih
Dia tetap bersenandung tak ada segan
Dengan harapan meletup hujan tumpah dari sang lazuardi



Oh, kiranya hujan tumpah
Senang bukan kepalang si jendela
Jendela rindu tetesan-tetesan air hujan memukul lembut kacanya
Rindu bertukar sapa bercerita hingga lelah
Dan hujan pun mampu meluruhkan debu putus asa pada tubuh si jendela



Toh hujan harus berhenti
Tiap tetesnya masih bergelantungan
Toh tetesannya mengering
Tiap tetesnya meninggalkan kerak beriringan



Namun, sepeninggal hujan jendela tahu
Ada biru cerahnya langit membumbung
Ada untaian-untaian pelangi tersulur
Jendela tahu



- Amanta Ayu, Sa

Ibu, Jangan Menangis



Diam diam aku pada bahu ibu, menangis merajang, ketakutan pada nafas yang tersengal, dimana sungai bermuara, dimana air mata melarikan diri sengaja.
Ibu, seperti hujan aku memanggil pelangi, memaksa memelukku keluar dari sunyi, dari warna warni, dari segala yang membuat kau menangis seperti ini.
Getir getir, bibirku seakan lebih khawatir dari takdir, mereka melemparku pada dinding dinding terekam, seakan detiknya menerkam terkam.
Biarkan jalannya berbatu; Ibu, aku disini, anak tersetiamu, pada malam pada pagi pada hujan pada sunyi, panggilah aku~kapanpun itu.
“Airnya tak bisa berhenti aku tahan” Ibu begitu kejar basah matanya, Peluk aku Ibu, relakan saja bapak, karena itu adalah takdir kehendak
Karena Aku, dan Tuhan masih senatiasa menjaga dalam lelap sekelebat lebat, mendoakanmu dalam puisi yang aku ciptakan begitu hebat

- Amanta Ayu, Sa