Senin, 28 Januari 2013

Mereka Bilang

Orang bilang, biarkan mengalir 

Layaknya sungai mengalir dari hulu ke hilir 

Sampai berakhir di laut 

Orang bilang, sakit hati tak akan selamanya terasa, waktu akan menyembuhkannya 

Membuat kita terbiasa dengan perihnya, dengan luka yang ditorehnya 

Tapi kadang alirannya tersendat oleh rasa sakit dan takut akan kehilangan yang menyayat 

Dan, apa lagi yang akan dikata orang-orang? 

Tapi kadang pula, sakit selamanya ada 

Tak peduli entah berapa hari yang berlalu terbang terbawa angin kencang luka tetap saja menganga 

Dan, apa lagi yang akan mereka jadikan pembelaan? 

Kadang ingin kututup telinga 

Agar tak usah kudengar apa yang orang bilang, 
karena mereka tak mengerti, 
bukan mereka yang menjalani 

Jadi, untuk apa repot-repot berpura-pura sudah memahami?

 - Amanta Ayu, Sa

Mengutip

Dalam gelap, aku tak bisa melihat sebiru apa langit itu.

Aku terlalu nyaman dengan rahasia ini. Aku menyelipkan perasaanku di antara keseharianku. Aku memilih sendiri. Menyepi. Membenci diri yang tak bisa jujur padamu.

Sesungguhnya, aku tak tahan lagi. Semakin besar kurasa jarak di antara kita. Kau semakin sulit kuraih—dengan atau tanpa sunyi di bibirku ini. Dan aku mulai bosan dengan gelap. Jenuh dengan segala rahasia.

Karenanya, hari ini, kuputuskan untuk berterus terang padamu. Bertanya dengan segenap tetes keberanianku, “Maukah bersamaku menikmati birunya langit hari ini?


--------- 

Bagaimana caraku menatapmu, memandangmu lurus-lurus tanpa rasa bersalah? Karena setiap kali aku berhadap-hadapan denganmu, berusaha bereaksi atas senyuman tulusmu, aku seketika menundukkan kepala. Saat melihatmu, aku melihat dirinya.

Cinta memang bukan sesuatu yang bisa dipermainkan, dan sayangnya, aku baru menyadari ketika benar-benar terperosok ke dalamnya. Seperti pasir isap, sulit bagiku untuk keluar dari segitiga ini.

Ada tiga sisi di cinta ini, ada tiga perasaan yang tengah dipertaruhkan.


Tak seharusnya ini terjadi, aku tahu itu. Tapi, kau dan dia bagaikan air dan udara—bagaimana bisa aku memilih hidup dengan salah satunya saja?


----------

Aku punya cerita.
Tentang seseorang yang menghabiskan separuh hidupnya mencari cinta. Menelusuri ke segala arah, bertanya ke semua orang. Dan, pada suatu masa, orang itu mulai merasa lelah. Mulai pesimis. Apakah semustahil itu cinta hadir untuk dirinya?

Saat itulah cinta datang. Sungguh-sungguh menghampirinya, benar-benar berdiri di hadapannya. Namun, tahukah kau apa yang dia lakukan kemudian? Berjalan menjauh. Dan, melanjutkan pencariannya lagi.

Aku punya cerita.
Tentang orang yang terlalu banyak berharap. Tentang sebuah kekeraskepalaan. Tentang aku dan lelakiku. Tentang cerita yang tak kunjung lengkap.

-----------

Kau adalah hangat. Padamu aku temukan dunia yang ramai dan selalu bahagia. Kau adalah rumah. Tempat aku menitipkan tawa kanak-kanakku, juga menyimpan mimpi tentang sebuah masa depan.
Suatu hari, mungkin rumahku tidak lagi kau. Tidak bisa dan tidak mungkin. Kau hanyalah rumah tempat aku menyimpan berpuluh-puluh frame yang tidak akan lapuk karena waktu. Tempat aku selalu kembali meski mungkin kau tidak lagi berada di sana.

Kau datang menjelma sepi. Lalu, pergi meninggalkanku dalam gigil. Gadis polos dalam kamuflase musim semi, aku membencimu. Tak ada kau dan aku dalam cerita masa depan. Itulah mengapa aku memilih menjauh.
Namun, kau tahu, hingga mana pun jauh mengantar langkahku, ternyata tak pernah ada yang menamai rindu milikku, sesempurna kau menamainya. Dan, membuatnya akan selalu menjadi milikmu.

-------------

Aku berharap tak pernah bertemu denganmu.
Supaya aku tak perlu menginginkanmu, memikirkanmu dalam lamunku.
Supaya aku tak mencarimu setiap kali aku rindu.

Supaya aku tak punya alasan untuk mencintaimu.
Dan terpuruk ketika akhirnya kau meninggalkanku.

Tapi...
kalau aku benar-benar tak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tak akan pernah tahu seperti
apa rasanya berdua saja denganmu. Menikmati waktu bergulir tanpa terasa.
Aku juga tak mungkin bisa tahu seperti apa rasanya sungguh-sungguh mencintai...
dan dicintai sosok seindah dirimu.

Kamis, 27 September 2012

Satu, Dua, Tiga


Kau yang memadamkan apa yang mencoba benderang di jalanku 
Ya kau, sesuatu itu 

Kau yang memudarkan apa yang mencoba berpendar di hatiku 
Ya kau, sesuatu itu 

Kau yang menghalangi apa yang mencoba memahami kehilangan ini 
Ya kau, sesuatu itu 

Satu, dua, tiga 
Kembali ku hitung air mata untuk sesuatu yang pernah memanggilku segalanya, selamanya 

Satu, dua, tiga 
Pernah ku langkahkan kaki, lalu mundur kembali melepaskanmu, selalu menghilangkan aku 

Satu, dua, tiga 
Aku mengingat tentang bintang-bintang yang dulu pernah kau janjikan datang, yang kini hilang dibawa terang 

Ya, aku. Sesuatu ini 


Berlari mengebiri hati sendiri 
Bersedekap pada apa yang tak lagi menganggap 

Ya, aku. Sesuatu ini 
Masih saja dengan setia menghitung satu, dua, lalu tiga 
Membuka mata dan kau hilang entah dimana 

Satu. Dua. Tiga


- Amanta Ayu, Sa

Ketika Itu, Cintai Aku Sekali Lagi




Ketika itu, aku jatuh cinta pada matamu
Bukan, bukan karena bulu matanya yang bertumpuk merayu
Hanya karena tajam, yang menusuk langsung ke hatiku
Tajam yang mampu membuat hatiku berdarah ini

Ketika itu aku jatuh cinta pada senyumanmu
Bukan, bukan karena mereka merah merekah
Hanya karena tarikan garisnya mencoret langsung ke hatiku
Coretan yang mampu menghitamkan hidupku saat ini

Ketika itu aku jatuh cinta pada suara tawamu
Bukan, bukan karena mereka lebih merdu dari angin
Hanya karena nadanya selalu berputar ulang di fikiranku
Nada yang mampu membuat sendu yang tak juga berhenti detik ini

Mencintaimu, mengapa begitu mudah
Semudah aku menulis ini

Melupakanmu, mengapa begitu sulit
Sesulit aku membaca ini

Dan ketika segala tentangmu menghantui
Aku tak ingin mati, aku hanya ingin kau cintai sekali lagi
Tiuplah aku, hingga membumbung dan hilang
Hingga pandang tak lagi cukup dekat
Untuk sekedar mendekap
Siapa tau ketika itu,
Kau ingin cintaiku

Sekali lagi,
Sekali waktu..




Aku Hanyalah Aku



Aku adalah aku, 

Pemberontak yang kalahkan kesedihan 
Yang berteriak semampuku, untuk didengarkan 

Aku adalah aku, 
Bukan pengecut yang lari dari air mata, 
Jiwaku bukan langit tanpa hujan 
Langkahku ramai, berwarna dan menyenangkan 
Namun apa yang kudapat setelahnya? 
Kebencian.. 

Aku adalah aku, 
Muak dengan semua omong kosong 
Memperolok kebohongan yang menindas 
Kadang ku berfikir, 
aku adalah api 
Yang sanggup menumpas semuanya seorang diri 
Namun aku rapuh, oleh angin yang menggoyahkanku, 
memadamkanku.. 

Aku adalah aku, 
hidup untuk memperjuangkan hari ini 
Tak ingin diremehkan.. 
Sekali maju lebih baik mati, 
daripada mundur tak punya arti 

Aku adalah aku, 
menyimpan lengah beribu sebab 
Menusuk dengki tanpa memahami 
Lurus berjalan tanpa peduli apa yang menghalangiku 
Berlari semauku, sampai aku tau.. 
Aku berguna.. 

Aku adalah aku, 
manusia biasa yang sering dijangkit putus asa 
Namun aku keras! Berdiri menombak kegagalan 

Aku hanyalah aku, 
gadis kecil yang kesepian.. 
Menumpahkan amarahku kepada apapun yang kutemui.. 
Bosan.. Aku kesepian..

- Amanta Ayu, Sa


Menitipkan Rindu


Aku sering menitipkan rindu pada sayap kupu-kupu 

Sehingga disetiap debunya yang jatuh pada kelopak bunga,
Ada cintaku di sana 

Aku sering menitipkan rinduku pada layang-layang yang terbang tinggi di awan 
Sehingga di setiap mata yang memandangnya dari kejauhan,
Jelas melihat cintaku, yang tengah terbang untuk menjangkau hatimu 

Aku sering menitipkan rinduku pada rerumput yang tumbuh di sela lubang aspal 
Sehingga di setiap langkah yang melewatinya akan teringat 
Bahwa di mana pun rindu kutinggal, mereka mampu bertahan untuk tak tertinggal 

Aku sering menitipkan rinduku pada Tuhan 
Sehingga di setiap hati yang memiliki keyakinan 
Turut mengamininya dengan ketulusan. 

Aku merindukan segala kekuranganmu, yang nyata dapat kulengkapi. 
Aku merindukanmu.


- Amanta Ayu, Sa

Aku Mau Dia




Aku mau dia yang bicara lembut padaku karena aku memang sesuatu yang lembut di hatinya



Aku mau dia yang menuntunku menyebrang jalan bukan karena aku tak mampu melihat sekelilingku, tapi karena keselamatanku adalah hal yang pertama ingin ia pastikan



Aku mau dia yang tersenyum saat hal buruk menghampiriku bukan karena ia tak paham kesedihanku, tapi karena ia ingin jadi yang pertama mengingatkan bahwa kebahagiaan adalah hal yang pantas aku dapatkan



Aku ingin dia yang memberiku kepercayaan untuk berteman dengan siapa saja bukan karena dia tak peduli, tapi karena ia yakin bahwa aku bertanggung jawab atas hidupku sendiri



Aku mau dia yang berdiri di sampingku bukan karena ia takut berjalan lebih dulu,

tapi karena ia ingin kami saling mengiringi, bukan mengikuti 


Aku mau dia yang bersandar padaku sesekali agar aku tahu, 
aku adalah salah satu kekuatan yang tidak mengintimidasi kelemahannya sebagai laki-laki

Aku mau dia yang berjanji bukan semata agar aku percaya, tapi agar Tuhan pun tahu ia tengah bersungguh-sungguh padaku



Aku mau dia yang beriman bukan hanya karena ia ingin menjadi takdirku suatu hari nanti, 


tapi karena Tuhan adalah hal yang selalu ada di hatinya

Aku mau dia yang tak pergi jauh saat aku jatuh bukan karena dia tak yakin aku cukup berani untuk berdiri kembali, tapi karena ia sosok yang setia mendampingi



Aku mau dia yang sederhana hingga segala yang ada pada dirinya tidak menyilaukan kenyamanan hidupku selama ini



Aku mau dia yang percaya pada mimpinya bukan karena ia takut terjaga, 


tapi karena ia siap pada setiap kenyataan yang Tuhan berikan di hadapannya

Aku mau dia yang menghargaiku bukan karena aku bernilai, tapi karena berapa pun harga yang ditawarkan hidup tak pernah cukup untuk menggantikan 

kehadiranku


Aku mau dia yang tak takut jatuh miskin bukan karena ia ingin kami hidup sulit, tapi karena ia tahu saat kematian datang harta akan menjadi hal pertama yang tak berharga. 

Aku ingin dia yang mencintaiku setulus dan selurus iman dan taqwanya pada Sang Pencipta

Tuhan, aku ingin Dia

*menyebut namamu sambil terpejam*


- Amanta Ayu, Sa