Rabu, 03 April 2013

Berbeda







Di hamparan gurun yang seragam, jangan lagi menjadi butiran pasir. Sekalipun nyaman engkau di tengah impitan sesamamu, tak akan ada yang tahu jika kau melayang hilang.

Di lingkungan gurun yang serba serupa, untuk apa lagi menjadi kaktus. Sekalipun hijau warnamu, engkau tersebar di mana-mana. Tak ada yang menangis rindu jika kau mati layu.

Di lanskap gurun yang mahaluas, lebih baik tidak menjadi oase. Sekalipun rasanya kau sendiri, burung yang tinggi akan melihat kembaranmu di sana-sini.

Di tengah gurun yang tertebak, jadilah salju yang abadi. Embun pagi tak akan kalahkan dinginmu, angin malam akan menggigil ketika melewatimu,oase akan jengah, dan kaktus terperangah. Semua butir pasir akan tahu jika kau pergi, atau sekedar bergerak dua inci. Dan setiap senti gurun akan terinspirasi karena kau berani beku dalam neraka, kau berani putih meski sendiri, karena kamu…berbeda.

- Amanta Ayu, Sa

Selasa, 02 April 2013

Sebelum Aku Tak Lagi Mencintaimu


Sebelum aku tak lagi mencintaimu, kamu selalu menjadi tujuan favorit bagi ingatanku. Aku akan memilin cerita demi cerita ketika kita sedang berbincang berdua lalu menertawainya. Mengagumkan bagaimana satu cinta bisa membuat dua hati merasa nyaman.
Seperti kita.

Sebelum aku tak lagi mencintaimu, aku akan merindukan pagi untuk cepat datang lagi. Itu satu-satunya kesempatan untuk melihatmu kembali. Tersenyum ketika dua pasang mata kita saling bertemu, mengirimkan pesan-pesan tidak jelas asalkan ada bahan untuk berbicara denganmu, atau menyeruput float sengaja lebih pelan dari biasanya agar aku juga bisa bersamamu lebih lama.

Sebelum aku tak lagi
mencintaimu, kamu adalah bahagiaku. Tempat aku menitipkan hatiku untuk tinggal sementara (dan selalu berharap bisa di sana selamanya), atau tempat aku merekam adegan-adegan kamu dalam potongan-potongan kecil untuk aku ingat lagi nanti malam, dan malam berikutnya, dan malam berikutnya.

Tapi, mungkin benar pepatah para orang tua, “Manusia berencana, Tuhan yang menentukannya.”
Aku berencana mencintaimu, menjaga bahagiamu. Tapi menurut Tuhan, aku lebih baik mencari jalan yang berbeda. Mungkin, menurut Tuhan, kita berdua bisa jadi akan menjadi dua orang paling berbahagia jika bersama. Karena itulah Tuhan memutuskan untuk membagi kebahagiaan kita kepada orang lain secara adil dengan cara tidak menjadikan kita bersama.

Itu pikiran positifku. Benar atau tidaknya, aku lebih suka berpikir seperti itu.

Yang harus kamu ingat hanyalah, sebelum aku tak lagi mencintaimu, kamu pernah menjadi bagian paling menyenangkan dalam ceritaku.

Tapi itu dulu. Dulu, sebelum aku tak lagi mencintaimu.

- Amanta Ayu, Sa

Senin, 25 Maret 2013

Kalau Kamu Membaca Ini


Kalau kamu membaca ini, kamu pasti mengerti rasanya rindu, tapi tidak bisa mengatakannya kepadamu.
 
Baiklah, mungkin bukan rindu tentangmu (kamu sering mengatakan itu), tapi rindu tentang kehangatan perbincangan kita. Bukan orangnya. Kalau memang iya, kalau memang aku hanya rindu peristiwanya dan bukan orangnya, bukan kamu, bisakah kamu datang dan kita berbincang lagi lain kali? Aku berjanji tidak akan menyinggung tentang kita. Kita adalah masa lalu. Jadi, memang tidak sebaiknya hidup di situ.
 
Mungkin, kita akan berbincang saja mengenang cerita kita. Tentang semua tawa yang sudah kita lewati bersama, tentang semua pertengkaran yang sudah membuat kita saling tidak mau bertegur sapa, tentang film-film yang pernah kita tonton bersama, lalu menertawakan semuanya.

Jangan khawatir. Aku akan menjaga hatiku untuk tidak jatuh cinta lagi kepadamu, begitu juga seharusnya kamu.
 
Kita akan bertemu sebagai seseorang yang hanya sama-sama rindu dengan perbincangan kita, bukan orangnya, bukan hatinya.
 
Bisakah kita melakukan itu kapan-kapan?

- Amanta Ayu, Sa

B.a.h.a.g.i.a


Mungkin bahagia itu adalah meski hanya makan tempe, tapi kita bisa menikmatinya.
Mungkin bahagia itu adalah ketika terjebak macet di tengah jalan, lalu karena tidak ada yang bisa dilakukan, kita menyetel musik, bernyanyi, dan bersenang-senang di tengah kemacetan.
Mungkin bahagia itu adalah ketika terjadi hujan saat kita mau pergi keluar. Tapi kemudian, kita berpesta di dalam rumah meski tidak jadi keluar.
Mungkin bahagia itu adalah ketika kita mampu melepaskan.
Mungkin bahagia itu adalah ketika kita menginginkan sesuatu dan berhasil mendapatkannya.

Mungkin bahagia itu adalah ketika kita sedang kusut, lalu pergi ke pantai, melupakan sejenak semua kekusutan, dan benar-benar menikmati pantai.
Mungkin bahagia itu adalah kita sendiri. Ketika mampu menikmati.

Mungkin bahagia itu adalah ketika kita bisa menghitung apa saja hal yang sudah diberikan Tuhan dan yang belum, lalu menyadari bahwa lebih banyak yang diberikan daripada yang belum.
Lalu kita tersenyum.

Mungkin bahagia bukanlah peristiwa, atau bersama siapa.
Mungkin bahagia adalah cara kita memandang sesuatu dan bagaimana membuat apa pun menjadi lebih menyenangkan.
Fokus kepada apa yang bisa kita lakukan daripada fokus pada peristiwa buruknya.

Mungkin.

- Amanta Ayu, Sa

Dua Orang yang 'Tidak Bisa' Saling Meninggalkan



Mungkin lebih baik memang seperti ini. Kita masih saling melindungi meski tak saling memiliki.

Saling memperhatikan meski sudah berjauhan.

Saling menguatkan dengan tanpa bergenggaman tangan.

Saling mendoakan meski tak saling berhadapan.*
 
Saling menertawakan kebodohan-kebodohan yang pernah kita buat, yang selamanya akan kita rindukan.

Saling menyemangati meski harus tahu batas diri.*
 
Saling mengisi meski sudah tak boleh lagi melibatkan hati.

(Semoga kamu tidak tahu, pada saat menuliskan "Tak boleh lagi melibatkan hati" tadi, rasanya pahit setengah mati.)
 
Karena kalaupun tidak bisa bersama, setidaknya kita berdua jangan saling memberi luka.

- Amanta Ayu, Sa

Senin, 25 Februari 2013

Tidak sengaja menulis ini


Lucu sekali di malam yang hujan seperti ini, (yang harusnya membuat tidur damai atau meringkuk ngantuk) aku masih terjaga. Tidak tahu sampai pukul berapa.

Setelah kamu pergi, aku tidur hanya sebentar sehari. Bukan, bukan karena aku membiarkan diriku menangis semalaman. Dan bukan juga karena aku berhenti peduli terhadap diriku sendiri. Aku hanya sedang berfikir lebih lama dari biasanya— sampai aku lelah terjaga dan tahu-tahu saja pagi. Aku terbangun dan mengambil ponselku lalu hendak mengirimkan ucapan selamat pagi yang manis seperti biasanya kepadamu—berharap kamu lebih bersemangat, tapi ketika hendak mengirim ke nomormu, pesan-pesan itu menggunduk sia-sia di folder Draft. Maaf, kadang-kadang aku lupa bahwa aku telah kehilanganmu. Hahaha, aku sering menertawakan diriku sendiri. Lebih baik begitu bukan? Aku telah berlatih keras untuk tidak menangis.
Aku benar-benar ingin menunjukkan kalau aku dewasa dan cukup kuat.


Aku menyukai saat-saat sibuk yang kubuat untuk melupakan tentangmu sejenak, mengingat itu hal yang menjadi menyakitkan sekarang. Namun rasanya aku tidak perlu melupakanmu pun tidak perlu berhenti menyayangimu. Kita pernah saling mengingatkan untuk hal baik. Kita pernah saling membuat bahagia. Kita tak perlu saling membenci untuk keadaan seperti ini. Mungkin memang bagiku, terlalu sebentar kamu disini. Aku masih ingin memandangimu dan berat untuk mengatakan bahwa aku sangat merindukanmu. Aku masih ingin peduli. Masih ingin melakukan semuanya bersamamu seperti biasa. Masih ingin membangunkanmu di pagi hari. Masih ingin menghiburmu. Tetapi aku langsung tahu itu tak berguna lagi. Aku bingung bagaimana cara untuk mengungkapkannya. Aku takut dan aku terlalu pengecut untuk sekedar mengawali, takut kamu lebih marah. Sebaiknya memang seperti ini, aku jauh-jauh darimu hingga rasanya kamu lupa aku ada. Segalanya terasa begitu cepat, dan sulit mengatakan bahwa aku masih belum siap kehilanganmu. Aku belum terbiasa tanpamu.

Aku sangat menyesal, tak berniat minta maaf karena kamu sudah bosan mendengarnya. Aku bertanya-tanya apa masih bisa aku menengok isi hatimu sekali lagi. Tapi mungkin kamu sudah belajar mencintai orang lain. Tak merasa sedih—atau bahkan senang berhasil lepas dariku.
Meskipun diam-diam aku masih berharap kamu kembali, namun aku tidak memaksa kepada Tuhan untuk melakukannya. Aku bisa baik-baik saja tentu saja belajar darimu. Maka jangan pernah menjadi buruk atau lebih buruk setelah kita seperti ini. Aku akan tetap mendoakanmu, karena sepertinya itu yang tersisa.

Hey, aku tidak bicara seperti seorang yang tengah putus asa. Aku belum sepenuhnya dewasa dan masih banyak yang belum aku pelajari. Aku penah berjanji padamu—dan akan senantiasa berjanji pada dunia untuk tak menyerah pada mimpi-mimpiku. Tentu saja, tentu saja apa yang kulakukan sekarang adalah mencoba menerima. Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditakuti. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawanya pergi entah ke mana. Dan aku akan mengerti, pun juga akan memahami.

Alsa! Andai ada yang memanggilku seperti itu lagi. Tapi itu terlalu berharga untuk dibagi bersama seseorang yang bukan Tian.

Senja tak lagi sama tapi pagi masih tetap indah bukan?
Selamat pagi.
Selamat siang.
Selamat sore.
Selamat malam.

Aku akan tetap mengucapkan seolah kamu tersenyum dan mendengarkan.

- Amanta Ayu, Sa

Kehilangan (mu)




Aku menulis ini karena akhirnya aku bisa menyadari kalau ternyata aku masih bisa berjalan lagi.

Kalau ternyata, kehilangan(mu) bukanlah akhir bagi duniaku. Mungkin akhir dari cerita bahagiaku yang ini, tapi bukan akhir dari cerita bahagiaku yang lain. Kenyataannya hidupku terus berjalan sampai sekarang, masih bisa tertawa, masih bisa melakukan hal-hal yang dari dulu biasa kukerjakan setiap harinya. Aku hanya harus melalui kesedihan yang sementara dan beratnya melepaskan yang juga hanya sementara. Tetapi pada akhirnya, aku akan tetap bisa baik-baik saja.


Aku menulis ini karena akhirnya aku menyadari kalau bahagiaku masih ada di masa depan. Mungkin dulu aku yang tergesa-gesa memutuskan bahwa kamu adalah bahagiaku yang selamanya. Ternyata tidak demikian. Ternyata, mungkin Tuhan menyiapkan yang terbaik untuk yang terakhir, di waktu yang menurut-Nya tepat. Dan itu pasti bukan kamu dan juga bukan waktu sekarang, karena kamu meninggalkanku.


Yang harus aku lakukan saat kehilangan(mu) hanya bertahan, lebih memperhatikan sekitar, dan tidak fokus pada kehilangannya.  Karena seberapa pun hidup menjatuhkan seseorang, orang itu tetap memiliki kekuatan untuk memilih berlama-lama meratapi kejatuhannya atau bangkit kembali untuk menyambut bahagianya yang lain. Aku memilih untuk bangkit kembali, merebut bahagiaku kembali.


Jadi, aku sudah berdiri lagi di sini. Aku sudah siap untuk jatuh cinta kembali. Untuk berbahagia lagi. Sudah juga menghapusmu dari hatiku. Memang tidak menghapus kenangannya, hanya membersihkan ruangannya untuk nantinya bisa ditempati orang yang lebih baik lagi. Yang lebih tepat untukku menurut Tuhan, bukan yang tepat bagiku menurutku sendiri. Karena kalau di hatiku masih ada kamu, kasihan orang lain yang lebih mencintaiku dan berusaha masuk ke hatiku.


Jadi, sebenarnya, kehilanganmu tidak apa. Aku akan sakit sementara. Tetapi, selama aku tidak pernah kehilangan hati dan pikiranku sendiri; aku rasa aku akan baik-baik saja. Karena sebelum ada kamu pun, aku pernah berbahagia, jadi kebahagiaanku sudah pasti bukan tergantung pada kamu.


- Amanta Ayu, Sa