Jumat, 22 November 2013
Karena Apa?
sejak itu, aku pergi.
sejak itu, aku tak meminta.
sejak itu, aku berlari.
sejak itu, aku tak menunggu.
sejak itu, aku sadar.
sejak itu, aku tak berharap.
sejak itu, aku tersenyum dan sedih.
sejak itu, aku tak percaya.
sejak itu, aku menghilang.
sejak itu, aku tak bertanya.
…
dan,
sejak itu,
aku diam.
- Amanta Ayu, Sa
Senin, 04 November 2013
Pernah, dan Akan Selalu
Aku pernah berjanji untuk melupakanmu, meninggalkanmu di belakang bahuku, menganggapmu masa lalu dan berjalan dengan hati yang lain.
Aku pernah, pernah berjanji untuk tak memikirkanmu lagi, mencari hal yang lebih menarik dari sekedar sehelai tarikan horizontal yang kau buat dalam semyummu.
Aku pernah, entah sejak kapan hari itu dapat dikatakan “kemarin” atau bahkan “dahulu” – berjanji untuk mengalah pada harapan ini, mengalah padamu.
Aku pernah, menjadikanmu mimpi indahku. Disegala cuaca. Disegala udara. Disegala suasana hati.
Aku pernah, menjadikanmu alasan. Alasan untuk selalu bertahan apa pun yang terjadi, alasan untuk terus hidup, alasan untuk melewati segala hal membosankan ini.
Aku selalu, selalu merindukanmu.
Selalu mencintaimu.
Selalu membutuhkanmu.
Selalu memikirkanmu.
Aku pernah, pernah berharap kau menyadari ini semua, melihatku yang selalu berada satu hasta di belakangmu, menoleh dan memelukku. Menarik salah satu tanganku untuk kau genggam dan menjadikan kita beriringan. Bukan membelakangi, bukan mengikuti,bukan mendahului.
Aku selalu,
selalu ada disini.
Tetap ada disini.
Entah sampai kapan.
Mungkin sampai,
kata “selalu” berlalu,
dan menjadi,
selamanya.
- Amanta Ayu, Sa
Selasa, 15 Oktober 2013
I've Missed You
“Tears stream down on your face, when you lose something you cannot replace. Tears stream down on your face. And I, promise you I will learn from my mistakes. And I, will try to fix you.” —Coldplay, Fix You
I'm
at mid-October now, September was already long over.
Aku kesepian. Ya, kurasa cuma itu alasan yang
bisa menjelaskan kenapa belakangan aku menjadi sinis terhadap kebahagiaan orang
lain. Kenapa aku bisa begitu anti terhadap berbagai macam keramaian. Aku terus
menerus menyalahkan diri sendiri. Kenapa seolah cuma aku yang harus melewati
kehidupan—yang kurasa mendadak—monoton ini.
Kemudian aku sadar bahwa hidupku berbeda sejak aku kehilangan seseorang. Karena
jauh sebelumnya, ketika musim panas dimulai, someone broke me, setelah
aku memutuskan untuk mencintai dia saja. Dia adalah laki-laki sederhana dengan
hati baik—yang awalnya tulus itu—mencoba untuk selalu ada untukku.
It's
complicated. Dulu kami hanya teman biasa sampai hari itu. Sebuah hari libur
di pertengahan bulan April yang mendung. Kami menghabiskan pagi di yang
membosankan di ruang tamu rumahnya, dia dengan gitarnya dan aku asyik dengan
duniaku sendiri, menyanyi sumbang lirik lagu-lagu akustik yang kuputar di
ponselku sambil bermain game. Aku pura-pura tidak tahu bahwa dia
memperhatikanku. Lalu dia tertawa dan meletakkan gitarnya, meraihku untuk
mendekat, melihat jauh ke dalam mataku dan berkata “Let me be your only reason
to smile from now” . Dia mungkin tidak tahan bahwa selama itu dia hanya menjadi
tempat curhatku ketika aku bersedih saat proses melupakan mantanku sebelumnya.
Aku masih ingat bagaimana dia selalu ada saat aku butuh telinga. Bahwa dia
selalu membuatku tersenyum dan membuat semuanya ringan kembali. Aku fikir aku
mulai menyukainya dan bisa menjalani hubungan yang dia minta pelan-pelan. Lalu
ragu-ragu aku tersenyum dan hanya dengan satu kata “Okay”. OK. O-K. Sip.
Baiklah. Dia menganggap itu kata afirmatif, tanda persetujuan, tanda siap
memulai hubungan. Just simple word. But at the moment, it's more than enough.
Hari itu ulang
tahunku. Aku melewati waktu itu bersamanya, dengan makan malam sederhana di
tengah kota. Dia memberiku hadiah, dua buah boneka, satu beruang, satu singa.
Entah kenapa, saat itu aku merasa nothing special, bahkan kehadirannya
di sisiku pun masih belum cukup. Aku menjadi seorang pendiam di hari yang
seharusnya kulewati dengan meletup-letup. Ada rasa yang menggangguku sejak awal
aku dan dia memulai hubungan. Aku merasa merindukan tahun lalu. Saat aku
melewatkan ulang tahun dengan rasa bahagia yang luar biasa dengan
mantanku sebelumnya. Bagaimana semuanya tidak terasa datar dan seadanya. Lalu
hatiku mulai membanding-bandingkan, bahwa dia tak akan pernah bisa seperti
mantanku, Waktu itu dia bingung dengan sikapku, saat tiba-tiba air menetes
bergantian memenuhi pelupuk mataku. Dia bertanya aku mengapa dan apa salahnya,
dan aku tak bisa apa-apa selain menggeleng dan berkata kepadanya bahwa aku tak
apa. Suasana menjadi kaku lalu tiba-tiba aku ingin pulang. Biasanya saat kami
di jalan menuju kemanapun, ada saatnya dia memelankan motornya dan aku yang di
belakanganya akan cerewet mengomentari apapun yang kami temui di sepanjang
jalan, lalu dia menanggapinya dengan tawa dan kami bercanda tak henti-hentinya
sampai tiba di tempat tujuan. Namun perjalanan kali itu terasa lebih lama, dia
ngebut penuh emosi dengan motornya dan kami berdua diam sepanjang jalan pulang.
Aku bertanya-tanya apakah keputusanku untuk menerimanya saat itu sudah
tepat? Apakah benar dia orangnya? Apakah benar aku mencintainya? Aku masih
ingat saat akhirnya kami tiba di depan rumahku, aku turun dari motornya dan dia
masih enggan pulang. Dia di atas motornya menatapku dengan sorot mata takut
kehilangan dan meminta aku jangan pergi. Saat itulah juga aku sadar bahwa dia
sangat mencintaiku. Aku memeluknya dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja.
Dalam hati, aku berjanji akan mencoba mencintainya lebih keras lagi.
Walaupun kami
lebih baik, tapi kami tak pernah benar-benar baik-baik saja setelah itu.
Kehidupan kami saat itu diwarnai dengan pertengkaran-pertengkaran kecil tentang
musik apa yang menurut kami lebih bagus. Kami akan menertawakan candaan konyol
yang sebenarnya nggak lucu-lucu amat, mencela-cela musik elektronika,
mengomentari satu sama lain, berdebat tentang banyaj hal, dan tidak akan mundur
sampai salah satunya mengalah. Kami pergi ke banyak tempat indah berdua,
berangkat-pulang sekolah berdua, menonton film sampai larut malam berdua, and
we share stupid things together. Kami mengatakan hal-hal yang benar dan
hal-hal yang salah. Kami saling mendukung, saling menyakiti, dan saling
menyalahkan. Itulah hubungan nyaris sempurna yang kami miliki saat itu.
Seringkali saat aku PMS dan kesabarannya sedang berada pada level rendah,
karena masalah sepele kami akan bertengkar hebat, saling mencela,
membanding-bandingkan dan memutar fakta lalu diam beberapa hari sampai akhirnya
berujung pada dia meminta maaf dan sorot mata takut kehilangan yang sama. But,
he always find a reason to fight for me. For some reason, we stay. I stay.
Pada sebuah hubungan akan selalu ada pihak yang mencintai lebih besar dan meminta lebih banyak. Kadang aku merasa dalam hubunganku dan dia, orang itu adalah dia. Dulu, dia selalu memberi apapun tanpa aku perlu meminta namun dia yang selalu sering mengeluh tentang sikapku. Pernah sekali dia kelewat posesif hingga aku merasa risih dan aku memarahinya. Sejak saat itu dia membebaskanku, namun kenyataannya aku yang terlalu sering mengikis kepercayaan yang dia berikan dan terlalu sering mengecewakannya. Aku tetap saja tak peduli, mengabaikannya dan bertindak semauku. Namun dalam keadaan apapun, dia tak pernah berhenti selalu ada untukku. Aku tidak dapat melupakan bagaimana dia duduk diam di kursi teras rumahku dengan sorot mata lelah dan terluka. Because of me. Sekarang saat aku menyesali semua sikapku kepadanya dulu, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri karena itu.
Waktu itu, kami
masih terus menjalani hubungan walaupun dengan berat. Dia masih
memperjuangkanku dengan sisa-sia harapan bahwa aku adalah masa depan untuknya,
tetapi aku terus mengingkari kata hatiku sendiri dengan sisa-sisa keyakinanku
bahwa sebenarnya aku tidak mencintainya. Sampai akhirnya aku menyerah dan
mencampakkannya begitu saja dengan laki-laki lain yang baru kukenal. Aku melakukannya
karena aku bosan dan semakin lelah karena aku sendiri tidak tahu harus
bagaimana dan memilih apa, bukan karena aku mencintai orang baru itu. Dan dia,
walaupun sudah terluka terlalu banyak tetap memintaku untuk bertahan. Aku
menjelaskan padanya bahwa aku tak pernah pantas untuk cintanya, bahwa aku bukan
orang yang tepat yang bisa membuatnya bahagia. Dan betapa busuknya aku berani
mengatakan bahwa selama ini kita bukan apa-apa dan aku tidak mencintainya. Aku
tahu seberapa remuknya ia saat membantah, he said whatever who i'm, whatever
I do, he won't replace me. He loved me, and will always loving me.
Dia butuh beberapa hari untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya sudah
berakhir, berpura-pura semuanya tidak pernah terjadi, lalu mengatakannya sendiri
di depanku dengan senyum samar “Thanks for all, ternyata cinta tak cukup
dengan setia. Kapanpun kamu butuh aku, just say it and I will come,”
hatiku serasa ikut remuk mendengarnya namun aku tidak bisa melakukan apa-apa.
Aku hanya membiarkan dia pergi menjauh. He's never know that I said leave,
but he is everythings all I want.
Dia tidak tahu
kalau hari-hari berikutnya hidupku hanya berisi penyesalan. Dia tidak tau
seberapa banyak aku terluka ketika kami putus, dia fikir hanya dia yang
menanggung itu. Tentang orang baru itu, ternyata tak lebih baik darinya. Aku
tak lebih bahagia dan menerimanya tak mengubah apa-apa. Jadilah aku menyakiti
lebih banyak hati lagi. Sejak itulah aku merasa benar-benar sendiri. Aku
sejenak terkalahkan oleh rasa sakit dan tidak memiliki pertahanan untuk
melindungi diri. I miss him. I miss us.
Tak hampir sebulan
berlalu ia datang dan menawarkan menjadi temanku. Aku takut meminta lebih,
takut memintanya untuk kembali dan memastikannya tak pergi lagi, takut bahwa
dia belum memaafkanku. Namun dia menemaniku tanpa suara dan aku sungguh bersyukur dan
menikmati setiap kehadiran, aku kembali melakukan semua hal berdua dengannya.
Tapi semuanya terasa sangat berbeda. Kadang-kadang ia duduk di sampingku, namun aku merasa ia tak
ada di sana. Dia bahkan menolak untuk kusentuh. Tak kutemukan lagi sisa-sisa
dia yang dulu. Tak ada lagi tawa yang sama dan aku tak seberharga dulu lagi di
matanya. Aku dan dia, hanyalah masa lalu yang dingin yang tak lagi bisa
bersatu. Selama beberapa malam, aku menangisi hal yang sama. Tentang cinta yang
datang terlambat. Tentang bagaimana aku tak sempat membahagiakannya dengan baik.
Harapan-harapan ini tak cukup kuat untuk melawan kenyataan.
Sampai akhirnya
luka ini semakin perih saat aku mendengar dari salah satu temanku bahwa dia
terlihat berdua dengan perempuan lain. Aku menanyakannya langsung kepadanya
kalau perempuan itu siapa, aku hanya ingin memastikan. Dia menjawab dengan
tegas bahwa perempuan itu kekasihnya. Kekasihnya.
Dulu, akulah yang diakui seperti itu kepada dunia. Aku ingin memastikan sekali
lagi kenyataan buruk ini. Kuminta ia melihat mataku dan berkata bahwa dia sudah
tak mencintaiku lagi. Aku tak ingin dia mengasihaniku. Jadilah ia berkata
dengan sorot mata meminta maaf . Aku takut mendengar jawabannya. “I can’t,
Bil. I can’t hurt you. Tetapi aku lebih tak bisa lagi jika menyakitinya. I love
her. Sorry” Dia bahkan mengucapkannya dengan mudah. Air mata sudah
menggenang di pelupuk mataku. Kuberi dia senyum termanis dan yang terpahit aku
mengatakan seolah semudah itu juga aku mengikhlaskannya “It’s Okay”. I said. Dan dengan sisa kekuatanku aku beranjak pergi,
aku bahkan tak menoleh saat dia memanggil namaku. Dia tak mengejarku. We never met again since. I really losing
him.
Aku fikir aku
adalah orang yang cukup pintar untuk menentukan kapan untuk mencintai seseorang dan kapan waktunya mematikan rasa
itu saat sudah tak diperlukan lagi. Tidak ada cerita happy ending. Seharusnya aku sudah tahu, bahwa dia memang sudah berubah. Hanya saja
aku sulit merelakan. Sulit memberi tahu diri sendiri bahwa semua orang
bisa berubah dan mau tidak mau aku harus menerimanya. Namun, yang
menyakitkan ternyata bukan kenyataan bahwa aku harus melepaskan dia,
tetapi mendengar dari mulutnya sendiri bahwa sebenarnya kami berdua
bukan apa-apa. Dia sudah lama berhenti mencintaiku, sedangkan aku menyayanginya seperti tidak akan berakhir. Beribu pertanyaan memenuhi kepalaku. Satu yang aku tahu, mungkin aku memang tidak perlu tahu jawaban untuk setiap pertanyaan. Mungkin semua ini memang seharusnya begitu. You can meet someone who's just right, but he might not be meant for you. You break up, you lose things, you never feel the same again. But maybe you should stop questioning why. Maybe you should just accept it and move on. But, no one woke me up when September ends.
I'm
affraid. Yeah, aku takut kalau lama-lama nyaman seperti ini. Bukan apa-apa,
tapi maksudnya hanya karena hati yang belum sembuh, aku tidak bisa memaksakan
diri untuk terbiasa hidup tanpa berbagi apapun kepada orang lain. Aku takut
kalau nanti saatnya aku harus mencintai lagi, hatiku sudah terlanjur tertutup
lalu semuanya terlambat kembali. You know what? Sometimes I wish I know it feels to be on the end of the part. Must be nice, punya keyakinan seperti itu, punya keberanian dan keteguhan untuk mencintai tanpa takaran. Kamu nggak perlu terus bertanya-tanya , apa yang kamu berikan udah cukup atau berlebihan, sejauh mana kamu menyayangi seseorang, dan apa balasan yang kamu terima udah setimpa. Karena untuk orang-orang yang mencintai dengan bebas, semua itu nggak penting. You don't think. You just do.
Pada akhirnya hanya aku yang harus bertanggung jawab atas lukaku sendiri. Biarkan cinta membuat kisahnya sendiri, aku tak boleh melupakan hidup yang harus tetap berjalan. I remember, I let go, I moved on. But that still doesn't mean I don't miss him sometimes.
- Amanta Ayu, Sa
Minggu, 22 September 2013
Lelaki Musim Hujan
Dan lelaki angkuh yang menyembunyikan dirinya diantara pelukan semua musim,
Apa kabarmu? Bukankah dulu aku selalu menanyakan kabarmu, setiap kali
aku membaca buku-buku bodoh, dan meletakkan pembatas buku diantara
halaman yang kubaca dan belum kubaca?
Sudah lama aku tidak mengukir pengakuan-pengakuan. Aku merasa berdosa
menyembunyikan rasa bersalah
Aku tidak bisa menulis banyak. Maaf.
Aku hanya ingin menyampaikan beberapa hal yang sering diceritakan
oleh lampu kamarku setiap malam, sesaat sebelum memejam. Sedihnya,
dinding-dinding kamar ikut bersekongkol, berceloteh perihal tentang lalu.
Kamu ingat musim hujan yang kamu titipkan di mataku?
Kalau kamu berkenan, aku ingin mengembalikannya sekarang juga. Secepatnya.
Dibalik kepengecutanku, aku adalah wanita yang berani mengubur
bayanganmu hidup-hidup, kemudian melanjutkan kehidupan dan tidur
nyenyak.
Aku kembalikan musim hujan di mataku yang selama ini memelukku
bersama malam-malam yang terasa sangat panjang, menyedihkan, dan
menciptakan neraka di atas permukaan bantalku yang selalu basah.
Aku sudah bosan dengan malam dan banjir bandang.
Malam dan banjir bandang bukan kombinasi yang baik untuk aku arungi
dengan perahu dongeng-dongeng dan motivasi absurd dari
motivator-motivator yang tidak mau disalahkan atas kebohongannya. Hidup
tidak pernah semudah menangisimu di masa lalu. Memelihara musim hujan
yang kamu titipkan di mataku sangat mudah. Aku biarkan saja detik
berjalan dengan caranya, dan musim hujan yang kamu titipkan terus hidup
dan menari-nari.
Sekarang, iya, sekarang, aku kembalikan musim hujan yang telah lama kamu titipkan di mataku.
Aku tidak mengerti mana yang harus aku pilih antara permintaan maaf dan ucapan terima kasih.
Hey,
Aku menemukan seorang lelaki yang begitu istimewa, yang membuatku
merasa menjadi manusia seutuhnya hanya dengan sebongkah senyuman.
Senyumannya begitu magis dan meneduhkan.
Maka, aku kembalikan musim hujanmu. Karena sekarang ada seorang
lelaki yang menitipkan musim yang lebih menyenangkan. Aku belum bisa
menebak musim apa, tapi aku merasa ada getar kesimpulan awal bahwa musim
yang dia titipkan adalah musim 'selamanya'.
Time flows, everybody changes..
Aku sudah lama tidak mengamati perubahan-perubahan apa yang terjadi
pada dirimu hampir setahun terakhir.
Maka, aku yakin kalau aku kembalikan musim hujan yang kamu titipkan
di mataku, itu juga sebagian dari targetmu. Kamu lelaki penuh
perhitungan yang menyebalkan. Sangat menyebalkan.
Sekarang, aku bahagia dengan 'lelaki musim selamanya'. Kamu bisa
mendapatkan seribu wanita impian, tapi hanya sedikit yang membawa
kebahagiaan bersama pelukannya.
Kapan-kapan aku sambung lagi dengan cerita perihal lelaki musim
selamanya. Sekarang aku harus pergi, banyak yang harus aku kerjakan
Aku melarangmu mengembalikan doa-doa yang aku titipkan kepadamu. Biarkan mereka menyertaimu. Terima kasih untuk musim hujanmu.
- Amanta Ayu, Sa
Senin, 08 Juli 2013
Mengapa Suka Langit?
Mengapa saya suka langit?
Mungkin
karena mereka luas, mereka tak berbatas. Setiap kali saya merasa dunia
menghimpit saya, langit selalu memberikan sebagian wilayahnya untuk
saya melepas hela. Langit tidak memiliki garis yang bisa
mengkotak-kotakkan dunia ini. Dari mereka saya belajar untuk tidak lagi
membandingkan bahagia dan kecewa. Karena mereka tak se-banding.
Mengapa saya suka langit?
Seperti
layaknya dunia ini rumah, langit adalah atap. Pertemuan segala musim.
Wajah dari setiap keluarga. Jika tembok bisa membuatmu merasa aman,
atap selalu membuatmu merasa nyaman. Langit, memberi saya rasa ‘nyaman’
setiap kali saya menengadah padanya.
Mengapa saya suka langit?
Mungkin
karena segala bintang, matahari juga pelangi bernaung di antaranya.
Langit, seperti ibu bagi dunia. Birunya mereka selalu mampu melautkan
semesta. Dimana banyak impian berenang-renang. Tepiannya bukan tujuan,
karena ini bukan tentang hasil, tapi tentang keberanian untuk berharap.
Mengapa saya suka langit?
Memperhatikan
bagaimana wajah awan-awan dan mencoba menerka bentuknya adalah
pekerjaan yang begitu membahagiakan. Dari langit saya belajar, bahwa
tidak pernah ada musim yang tidak berganti. Tidak pernah ada hari yang
tidak bisa dilewati. Tidak ada awan yang tidak bergerak, akan ada
waktunya mereka berarak dan meninggalkan pandanganmu. Seperti itu lah
hidup memperlakukanmu. Akan ada yang datang, dan akan ada selalu yang
harus pergi.
Mengapa saya suka langit?
Haruskah ada alasan untuk menyukainya?
Terkadang, kita tidak perlu alasan untuk menyukai hal yang sudah ‘jelas’.
Mempertanyakannya, hanya akan mengusik keindahannya..
- Amanta Ayu, Sa
Jumat, 05 Juli 2013
Ini Baru Secuil, Dari Kue Kehidupan.
Tentu saja, siapa pun boleh terlahir cantik atau pun tampan. Siapa pun boleh terlahir sebagai seorang putri atau pun pangeran. Tak ada seorang pun yang sanggup memilih ‘awal’ dari dirinya. Begitu pun ‘akhir’ dari kehidupannya. Tapi, Tuhan memberi kita kebebasan untuk ‘bagaimana’ menjalaninya. Sehingga kita pun bisa merangkai ‘akhir’ dari diri kita. Kita, manusia, diberi begitu banyak hal yang tidak Tuhan berikan kepada makhluk lainnya.
Begitu banyak yang diberikan, begitu banyak yang dituntut. Bisakah kalian mengingat seberapa banyak jumlah serapah yang pernah terucap dari bibir yang paling sering mengingkari? Tidak mungkin dapat. Aku pun bahkan mulai menghkawatirkan limitnya.
Hari ini kau benci matahari yang terlalu bersemangat menyinari, dan beberapa menit kemudian kau benci hujan yang jatuh terlalu deras. Detik yang lalu kau benci keringat yang membanjiri tubuhmu, detik ini kau benci dingin tanpa sweatermu yang tertinggal.
Kau menyerapah setiap hal yang berjalan tidak seperti yang kau inginkan. Kau berteriak ‘Kenapa harus aku?’ untuk sesuatu buruk yang terjadi. Kau, dengan keikut sertaanku di dalamnya. Bagaimana lagi, Tuhan harus bersabar pada manusia? Itu, baru contoh kecil. Kita belum membicarakan raja yang ingkari rakyatnya. Kita belum membahas wakil rakyat yang mengabaikan konstituennya.
Begitu banyak yang diberikan, begitu banyak yang dituntut. Bisakah kalian mengingat seberapa banyak jumlah serapah yang pernah terucap dari bibir yang paling sering mengingkari? Tidak mungkin dapat. Aku pun bahkan mulai menghkawatirkan limitnya.
Hari ini kau benci matahari yang terlalu bersemangat menyinari, dan beberapa menit kemudian kau benci hujan yang jatuh terlalu deras. Detik yang lalu kau benci keringat yang membanjiri tubuhmu, detik ini kau benci dingin tanpa sweatermu yang tertinggal.
Kau menyerapah setiap hal yang berjalan tidak seperti yang kau inginkan. Kau berteriak ‘Kenapa harus aku?’ untuk sesuatu buruk yang terjadi. Kau, dengan keikut sertaanku di dalamnya. Bagaimana lagi, Tuhan harus bersabar pada manusia? Itu, baru contoh kecil. Kita belum membicarakan raja yang ingkari rakyatnya. Kita belum membahas wakil rakyat yang mengabaikan konstituennya.
Ini baru secuil. Dari kue kehidupan. Kau memakannya, kita semua memakannya. Tapi tidak menyisakan potongan untuk Tuhan yang telah memanggangnya untuk kita.
- Amanta Ayu, Sa
Minggu, 30 Juni 2013
Berfikir..
Saya tidak pernah mengerti, kenapa kita harus mengerjakan sesuatu yang tampak keren di mata orang lain, tapi kita merasa tersiksa saat menjalaninya. Mengeluh tentang seberapa kita membenci hal tersebut, tapi di sisi yang lain tetap bertahan melakukannya.
Saya tidak pernah mengerti, kenapa masa lalu seseorang selalu menjadi penting saat kita mencintai seseorang. Mengeluh tentang banyak kelemahan yang dia miliki, tapi di sisi lain tak pernah bisa berhenti merindukannya.
Saya tidak pernah mengerti, kenapa status sosial selalu menjadi penting saat kita telah nyaman berteman dengan seseorang. Merasa malu tentang bagaimana orang lain di sekitar kita menilai mereka, tapi di sisi lain kita selalu tahu bahwa dia tidaklah seburuk itu.
Saya tidak pernah mengerti, kenapa memberi sesuatu pada seseorang yang kita sayang itu dianggap merugikan. Mengumpat ketika akhirnya orang tersebut pergi meninggalkan kita dengan mudahnya. Sedang di sisi lain, kita tahu bahwa kita pernah merasa bahagia karena bisa melihat senyumnya saja.
Saya tidak pernah mengerti, kenapa mereka yang punya mimpi besar selalu merasa lebih keren dari seseorang yang lebih suka menjalani hidupnya tanpa terikat akan hal-hal yang berbau kesempurnaan. Mengatakan bahwa ‘mereka yang tak punya mimpi, adalah mereka yang tak cukup berani’. Sedang di sisi lain mereka tahu, bahwa mereka memilih mimpi yang ‘besar dan hebat’, hanya karena mereka pun takut dipandang lemah.
Saya tidak pernah mengerti.
Mungkin ada baiknya seperti ini.
Karena mereka yang terlalu banyak perhitungan dalam hidup. Justru terkadang tak pernah punya waktu menikmati hal-hal kecil yang terjadi di hadapan mereka saat ini. Dan dengan mudahnya melepaskan orang-orang yang paling berarti untuk mereka.
Merasa lebih kuat dari pada yang lain, adalah kelemahan termudah yang bisa kita jalani dalam hidup ini.
Merasa lebih benar dari yang lain, adalah kesalahan yang dilakukan oleh manusia mana pun. Tak terkecuali saya.
- Amanta Ayu, Sa
Langganan:
Postingan (Atom)






