Sabtu, 22 Maret 2014

Show Me Why


Saya bisa tertawa ketika hati saya bersedih, beberapa orang menyebutnya palsu, saya menyebutnya berani untuk lebih bahagia. 

Saya bisa tersenyum ketika hati saya penuh amarah, beberapa orang menyebutnya palsu, saya menyebutnya berani untuk mengalah. 

Dan itu tidak mudah. Dan itu tidak pula wajib untuk kamu tiru, percayalah, terkadang itu sangat mengerikan rasanya. Beberapa orang yang memaksakan diri untuk memahami saya, banyak yang bertumbangan menghilang. Berpikir kalau saya itu begini dan begitu. Berpikir kalau saya berpikir buruk tentang mereka, menulis hal- hal buruk tentang mereka. Padahal? Ah, salah satu hal yang paling saya benci di dunia ini, adalah membela diri di hadapan orang yang bahkan mampu menilai buruk orang lain tanpa bersedia untuk sekedar bertanya; apakah kita baik-baik saja?

Ketika mencoba menjadi orang baik saja tidak cukup untuk membahagiakan orang lain, saya tidak lagi mengerti harus bersikap seperti apa. Saya tidak ingin hal-hal yang mengganggu emosi saya, menjadikan saya seseorang yang saya benci sendiri. Banyak orang yang akhirnya menjadi seseorang yang mereka tidak suka, tanpa mereka sadari, dan saya tidak ingin jadi salah satu di antaranya. 

Di saat saya melangkah pergi dari hidup seseorang, itu hanyalah upaya saya untuk menyelamatkan diri saya sendiri. Come on, kita harus mengakui, bahwa tidak banyak orang yang peduli pada perasaan orang lain, ketika semua orang berpikir untuk jadi yang paling benar di atas banyak hal-hal yang sebenarnya salah. Dan berusaha untuk tetap berpikiran waras saat di hadapkan dengan hal yang demikian, bukanlah hal yang sederhana. 

Segala hal akan tampak salah, di mata seseorang yang terlalu senang berpikiran buruk. Saya pernah membaca sebuah surat yang ditulis seorang ibu kepada anak laki-laki kesayangannya, dia menulis: 

“Temukanlah perempuan yang mampu menertawakan kemalangannya sendiri. Karena kamu tidak perlu perempuan yang bahkan tidak bersedia melihat hal baik di dalam sebuah ‘kemalangan’.”

Kamu pun tidak pula diwajibkan untuk meniru ibu tadi. Percayalah, terkadang mencari pasangan yang ingat untuk berbagi saat bahagia saja sulitnya minta ampun. Dan baru saja, saya sempat me- retweet sebuah tweet yang berbunyi; 

“Too many people are trying to find the right person instead of being the right one.” ―@ILLUMINATI

AND THAT’S TRUE! Setiap orang punya banyak rencana besar untuk menemukan seseorang yang terbaik yang bisa dia mampu dapatkan, mengakhiri hubungan yang ini, dengan aggapan akan bertemu yang lebih baik nanti, berdoa siang dan malam agar Tuhan pertemukan dengan sosok yang mereka pikir adalah yang terbaik. 

Tapi berapa orang yang berani untuk berjalan lebih ke depan, meraih tangan seseorang, menggenggamnya, dan berkata; Aku sudah berusaha menjadi yang terbaik untuk dirimu. Sepanjang hidupku, aku sudah berusaha menjadi yang Tuhan inginkan, untuk pantas menjadi yang paling tepat untuk kamu pilih. Aku yakin, kita bisa melewati segalanya dengan saling memahami dan percaya. 

Memahami dalam kelemahan, dan percaya pada Tuhan. Mencoba meyakinkan seseorang bahwa kitalah orang yang tepat yang selama ini dia cari, bukanlah perkara yang sederhana. Jelas melelahkan dan akan terkesan sangat dramatis. Tapi terlalu fokus mencari, hingga lupa memperbaiki diri sendiri. Itu jauh lebih dramatis. 

*** 

Bheel adalah pribadi yang palsu, semua orang boleh bilang demikian. And it doesn’t bother me anyway. Saya akan terus tersenyum selama Tuhan masih memberi kesempatan saya untuk hidup. Saya akan selalu mencoba berani mengalah, untuk sesuatu yang hanya berisi sebuah amarah. Ketika saya sudah sampai di titik di mana saya tidak lagi ingin bicara dengan seseorang, maka dia pasti telah melampaui garis terjauh yang mampu saya berikan, untuk dilukai. 

Tapi saya pasti memaafkan siapa pun itu. Ketika bahkan saya tidak menciptakan udara, apa hak saya untuk merasa pantas membenci seseorang selamanya. Kalau kamu merasa saya tidak cukup mengerti dirimu, maka tunjukkanlah saya caranya. Kita bersama bukan untuk saling menerka dan kemudian terluka. Inilah saya, tidak setiap orang dilahirkan dengan kekuatan untuk selalu mengatakan padamu, apa yang sebenarnya ia rasakan. Itulah saatnya kamu mengatakan apa yang kamu inginkan. Sekarang, semua tergantung seberapa penting kehadiran seseorang itu di dalam hidupmu. 

I can't escape this now. Unless you show me how. ―Imagine Dragons 

 ***

PS: Bheel selalu menulis tentang dirinya, dirinya begini, begitu, ingin yang seperti ini, ingin diperlakukan begitu. Itulah menakjubkannya menulis. Menulis bisa membuatmu belajar untuk memahami dirimu sendiri. Dan dengan membaca, kamu bisa mencoba memahami seseorang, juga membangun karakter dirimu sendiri. Dengan menulis kamu juga bisa menjadi segala yang kamu inginkan, bahkan menjadi yang kamu impikan sekali pun—tanpa hal itu perlu benar terjadi.

- Amanta Ayu, Sa

Senin, 27 Januari 2014

Mereka Yang Baru Merayakannya Hari Ini


Mereka yang baru merayakannya hari ini : tahun baru apa yang dimau kini?
 

Mereka yang baru merayakannya hari ini : masih tersisakah penganan yang lalai dinikmati?
 

Mereka yang baru merayakannya hari ini : lalu siapa temannya sekadar jadi teman bernyanyi?
 

Mereka yang baru merayakannya hari ini : mungkin masih ada nyala kembang api?
 

Mereka yang baru merayakannya hari ini : cukupkah satu dua bungkus kopi instan untuk berbagi?
 

Mereka yang baru merayakannya hari ini : apa mereka sanggup merayakannya seperti kita yang tanpa hati?



Caruban, 1 Januari 2014 #latepost

- Amanta Ayu, Sa

Jumat, 20 Desember 2013

Indifferent

 
“It's hard being left behind. It's hard to be the one who stays.”
― Audrey Niffenegger, The Time Traveler's Wife
 
***

ketika canda pun mulai menjadi barang langka yang selalu aku cari dan susah kutemui. kadang mengharap, tapi selalu saja rasa itu hadir -tak percaya bahwa tawa yang harus kukeluarkan memang punyaku, dan lagi, sepertinya waktu mulai mendatangkan jenuh. entahlah.

ketika sebuah percakapan pun hanya sebatas kata klise, sebuah keharusan untuk diucapkan. lelah, ketiga harus berdramatugi di dalamnya, yang harusnya aku bisa menjadi aku seperti biasa. tersenyum, seolah tak apa.

mauku jangan selesai, tapi tak perlu munafik untuk menyelesaikan. mauku selalu ada, tapi buat apa ada kalau seringnya seperti tak ada?

bukan menuntut, bukan memaksa. itu maumu, dan itu pilihanmu. itu waktumu, dan semuanya punyamu. silahkan.

aku bukan tak punya hak, tapi memang serasa tak punya. bisa tolong jelaskan?

senang mengenalmu dan dekat denganmu. senang ada bersamamu dan ambil bagian dalam waktumu.

silahkan kamu bergulat dengan waktumu, bagilah kalau kamu mau berbagi, dan simpanlah semua yang memang mau kamu simpan karena aku tak memaksamu untuk melaporkan segala hal kepadaku.

semoga sukses dengan semua yang kamu pilih dengan waktumu. :)
 
- Amanta Ayu, Sa

Kamis, 28 November 2013

Dua Puluh Hari


Ceritanya aku sedikit bercerita, tentang dua puluh hari yang menyenangkan, sekaligus sedikit menyesatkan.

Hari-hari pertama dalam dua puluh hari itu, aku merasakan siklus perasaan antara panik, marah, bosan, dan bahagia. Rindu? Tidak sama sekali. Beruntungnya, para pembunuh waktu datang dengan sendirinya.

Buatku, para pembunuh waktu itu datang tepat waktu. Dengan itu aku sanggup menuangkan apa yang selama ini hanya aku simpan. Tenaga, dan pikiran. Dengan itu pula aku sanggup menghabiskan waktu, dan sayangnya juga uang.

Bahagia lalu tumbuh menyeruak. Seakan aku yang pernah ada kembali lagi, bebas dan untuk siapa saja. Semua waktu rasanya ingin kuraup kuhabiskan sendiri, atau untuk mereka yang hanya sekali-sekali ada.

Dan juga untuk dia yang secara kebetulan hadir.

Entah nampak, atau memang sudah tersiar kabar di luar sana yang aku bahkan tak pedulikan, rasanya orang-orang yang biasa kutemui seperti menyembunyikan suatu ucapan atau cerita. Entah.

Hari-hari berikutnya dalam dua puluh hari itu sama sekali tak aku rasakan sesuatu yang biasa ada dalam teori orang-orang dalam siklus seperti ini; hampa.

Lagipula, untuk apa aku merasakan hampa, kalau memang aku yang menginginkan siklus ini?

Segala bentuk kebebasan lalu aku lakukan. Segala yang berhubungan denganmu aku simpan, kalau perlu aku buang. Melupakan? Tidak, aku hanya memaafkan. Melupakan bagiku jauh lebih sukar daripada hanya memaafkan, dan akhirnya menyilakan kamu keluar dan juga senang sendiri.

Akhir November, yang juga berarti menjelang Desember.

Segala rencana ada untuk hari ketujuh.

Tapi tiba-tiba bubar.

Kesal? Iya. Tapi lalu untuk apa, toh bukan salah siapapun.

Empat hari kemudian kamu datang lagi, membawa beribu rindu yang memang selalu tersimpan, pun aku.

Masa yang menyenangkan, secara otomatis harus disimpan saja, juga cerita-cerita dan yang andil di dalamnya. Aku pikir-pikir, aku tak ubahnya jadi subyek pelarian belaka menembus aku yang sudah lama ditinggalkan.

Denganmu memulai lagi dari awal, dan mungkin inilah yang aku terima sebagai konsep restart yang seharusnya.

Semoga, ya, semoga, semua ini, dua puluh hariku dan dua puluh harimu, memang sebuah proses untuk duapuluhmasa dan seterusnya untuk kita.

- Amanta Ayu, Sa

Rabu, 27 November 2013

Just Live!

beberapa hari yang lalu aku bertanya ke dua orang teman via whatsapp, “kalau suatu saat nanti kita sudah semakin jarang bertemu dan berkomunikasi, kamu akan mengingatku sebagai (si)apa?”

dua orang itu kompak mencantumkan kata “galau” #dhuarr . hahaha, saat itu aku hanya bisa tertawa..

memang tidak aku pungkiri, konten twit-ku seringkali bernada galau. meski tidak semua dilatarbelakangi kegalauan *hmmm*. kadang asyik aja mencoba berkreasi dengan kata-kata, main twitter menjadi semacam katarsis dari berbagai tekanan kehidupan *tsaaahhh*

seringkali kegalauan itu dimaksudkan untuk menertawakan hidup, tragedi pun bisa berubah menjadi kelucuan bila kita bertujuan untuk menjadi bahagia di akhir perjalanan. but then, i took a moment to contemplate *wooosshhh, inner peace*. somehow, i just want to fill-up 2013 with more happiness \o/

kalaupun galau, haruslah galau yang jenaka :)
***

tadi pagi, aku ikut sebuah kontes foto berhadiah smartphone *pasang iket kepala..berubah jadi quiz hunter* XD
dipersyaratkan bagi peserta untuk upload foto yang menangkap momen sepanjang tahun 2012, minimal 1 foto tiap bulannya. di sana aku dibantu untuk menyusuri kembali apa yang terjadi sepanjang tahun yang baru saja berlalu. karena laptop baru saja hilang, jadinya aku buka kumpulan foto yang ada di facebook. ternyata ada banyak cerita, ada berbagai kisah, sedih, gembira, gundah gulana, pun bahagia

seakan terjadi sudah lama sekali, padahal itu baru saja
***

di malam sebelumnya, aku sempat mengirim DM ke seorang mantan karena twitnya yang mengingatkan bagaimana kami mulai saling mendekat kala itu, lima tahun lalu.. sekarang kami berteman baik, dan dia hidup bahagia dengan pasangannya yang kuanggap serasi :)
i’m happy for them

kukatakan kepadanya bahwa tiap pergantian malam tahun baru selalu ada kenangan tentang aku yang pernah kecopetan dan harus menginap di pos satpam kantor tapi senang karena menghabiskan malam pergantian tahun ditemani dia di ujung telepon selama lebih dari lima jam

dia bilang, “time flies..”

dan aku katakan kepadanya, “i’m glad that i remember the good parts of our story, of u.. it was a good one.. thank u!”

hahaha… bukan maksud menggoda yah, konteksnya adalah bahwa aku bersyukur kalau saat ini, lima tahun kita berpisah, kenangan yang tersisa tentang dia, tentang kita adalah hal-hal indah/baik..  
***

hidup ini singkat, dan cuma sekali..

mari rayakan kehidupan!

dengan semua kesedihan dan kegembiraannya

karena semua emosi itu indah..

hidup itu indah

just live!
 - Amanta Ayu, Sa

Selasa, 26 November 2013

Gila



Rasanya ingin mati. Bukan, jangan mati, terlalu dini. Mungkin lebih baik memang hanya anggap kepala ini batu jadi kalau pun tak sakit, ya langsung pecah.

Gila.

Rasanya ingin tertawa. Iya tertawa, melihat aku kamu seperti boneka entah siapa dalangnya. Kalau pun aku melawak, kamu cuma diam. Kalau pun aku sedih, herannya, kamu langsung tertawa.

GILA.

Rasanya ingin memaki. Tenang, aku bahkan hanya ingin memaki tembok kamarku. Kenapa dia begitu egois, tak menjawab pertanyaanku barang satu pun.

Gila.

Rasanya ingin diam. Mungkin capek. Tentu lah orang pasti lelah, lalu ingin rehat. Satu, dua, tiga detik cukup, kok. Buat apa berlama-lama?

GILA.

Rasanya ingin diam. Ingin Berteriak. Ingin tertawa. Ingin memaki. Lalu diam lagi. Kenapa?


- Amanta Ayu, Sa

Salam Datang


Sore kali ini benar-benar menyatu dengan rintikan air yang menetes di halaman depan. Mungkin ingin bilang permisi, lama-kelamaan juga mengetuk-ngetuk daun jendela. Hei, selamat datang, tapi kuharap kamu tak bertamu lama-lama.

Nanti sebelum petang aku sudah menyiapkan peralatan sederhanaku untuk lagi-lagi mencari Senja. Kalau ada, aku mau merekam sepenuhnya, supaya nanti aku bisa menikmati sendiri kala ingin. Nah, maka Hujan, jangan datang terlalu lama, aku mau bertemu yang lain.

Aku siapkan juga kopi untuk kuseduh nanti, sekaligus dua cangkir, dan juga kusiapkan penganan yang cukup dihabiskan berdua. Mungkin tak terlalu nikmat rasanya, tapi kopi sengaja kubuat pahit dan penganan sengaja kucarikan yang manis. Kamu bertanya agar apa? Sederhana; aku hanya ingin melihat perbandingan air mukamu nanti saat mencecapnya.

Kursi teras rumahku sudah kubersihkan, karena kamu tahu, jarang sekali penghuni rumahku duduk di sana. Nanti kamu tunggu saja di sana, sembari mungkin menikmati bunga-bunga pekarangan depan yang selalu kurapikan. Tak perlu kamu ketuk pintu, karena pintu hanya diketuk oleh mereka yang tak memiliki kunci, dan kamu; selalu kusediakan tersendiri.

- Amanta Ayu, Sa