Jumat, 10 Agustus 2012

Aku Akan Ada Disini




“Mati, bukan caraku untuk meninggalkanmu. Tapi, untuk menjadi abadi bersamamu” 


Pernahkah kau berpikir, untuk mengingatku? Pernahkah engkau mengenang kisah-kisah manis kita berdua, hingga segalanya tertutup waktu? Hingga engkau melupakan wajahku?

Aku mengintipmu dari kejauhan, yang mungkin tak akan pernah terbayangkan olehmu. Duduk di sebuah kursi yang berada jauh dari panggung tempat engkau berdiri seraya menyaksikan engkau dengan setelan jas hitam rapi sedang memetik gitarmu dengan merdu. Aku merindukan setiap nada yang teralun dalam setiap baitnya. Kau dahulu menyanyikannya untukku, apakah kau tidak pernah mengingat itu? Mengingat kenangan kita beberapa tahun yang lalu. Kau ceritakan semua mimpimu padaku, kau berikan semua harapanmu padaku, kau bagikan citamu padaku, berangan-angan kita meraihnya bersama, apakah kau masih mengingatnya?

Kisah masa lalu kita untuk mengejar mimpi bersama. Aku masih mengingatnya dengan jelas, saat engkau menggenggam tanganku, bukankah itu adalah masa yang sangat manis? Sangat tak terlupakan untuk kita berdua? Apakah kau tak pernah berpikir untuk mengingatku lagi?

Suara riuh rendah tepuk tangan penonton menyadarkan lamunanku. Wajahmu yang tersenyum puas dan masih saja menunjukan kehangatan itu menatap seluruh penonton kemudian kau membungkukan badanmu, memberi salam hormat kepada seluruh penonton.

Aku masih ingat pada ekspresi wajah ini, terekam jelas di ingatanku. Seperti foto yang bertebaran di setiap sudut memoriku. Saat itu tanganmu dingin dan wajahmu pucat. Itu pertunjukan pertamamu. Kau berkali-kali ingin mengundurkan diri. Aku masih terkenang saat engkau merunduk di hari sebelum engkau mengikuti kontes musik itu, kamu menatap ujung sepatumu yang bergerak-gerak sejak tadi sambil berkata, “Lebih baik aku tidak ikut dalam kontes ini, aku tidak berbakat.”

Aku menggelengkan kepalaku, menangkupkan kedua tanganku pada dagumu, mata polosmu yang berwarna cokelat kehitaman bertemu dengan mataku. Baru kali ini aku memiliki keberanian, keberanian untuk menatap matamu, “Kamu pasti bisa, aku tau kamu pasti bisa.”

Kau masih terus menggeleng, tanganmu meraih kedua pergelangan tanganku melepaskan tanganku dari wajahmu. Kulitku dapat merasakan dinginnya telapak tanganmu itu dan setiap getaran ketakutan serta keraguan yang timbul. “Aku takut,” Ucapmu lirih. “Jika aku menang nanti, haruskah aku meninggalkan kamu ke Inggris?”

Aku melihat keraguan di wajahmu, ketakutan di kedua bola matamu itu. Aku tau, kau bisa melakukannya. Kurentangkan tanganku untuk memelukmu dan berjinjit seraya berbisik, “Aku akan ada bersamamu,selalu.. aku akan melihatmu, aku pasti akan datang ke kontes itu nanti, aku berjanji. Aku juga akan ada untukmu, selalu dan selalu.”

Kau meraih tubuhku, dan mengecup keningku. “Kamu ingin keliling dunia kan? Aku akan mewujudkannya. Aku berjanji, kita akan berkeliling dunia bersama. Aku yang akan membawamu mengelilinginya.”

Itu adalah saat yang tak akan pernah aku lupakan. Malam itu, adalah malam terakhir aku melihat senyum di wajahmu saat dirimu bertatapan denganku.

Aku ingat hari sesudah itu. Seperti film yang terulang kembali dalam kepalaku. Saat beberapa jam setelah kau berkata, “Sampai jumpa.” Matahari siang itu tak begitu terik, gumpalan awan putih menghalangi sinarnya sehingga suasana nampak hangat. Dengan gaun terbaikku, aku sekali lagi mematut di hadapan cermin berbentuk persegi panjang. Aku tak ingin melewatkan harimu, kontes yang akan mengubah seluruh hidupmu.

Aku mengendarai sebuah mobil sedan berwarna merah metalik hadiah ulang tahunku yang ketujuhbelas dari orangtuaku. Namun keadaan di jalan tak semulus awalnya. Segerombolan massa mengamuk, aku dapat melihatnya dari kaca jendelaku. Ban-ban terbakar, segerombolan orang sedang memukuli orang lain. Seolah langit yang cerah ini tampak menjadi gelap.

Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan rendah, berharap aku tak akan seperti yang lain. Namun saat itu, mau tak mau mobilku kurem mendadak saat menatap beberapa gerombol orang menghadangku.

Aku mulai tak ingat yang terjadi kala itu. Aku cuma mengingat ketika ponselku berbunyi dan aku melihat namamu tertera di layar. Aku mencoba untuk mengangkat telepon darimu, tetapi terlambat. Kaca jendela mobilku di rusak dan aku dipaksa keluar. Aku tak pernah ingat apapun lagi setelah itu. Aku bahkan tidak pernah ingat lagi yang terjadi dalam hidupku. Saat aku tersadar, aku sedang melayang di langit biru. Aku berusaha turun ke tanah dan berlari cepat.

Tak seperti tadi, seolah tak ada yang memperhatikanku kali ini. Aku tak peduli dengan apapun, aku hanya ingin melihatmu, memberikanmu dukungan setulus hatiku. Namun acaramu telah usai atau mungkin tak pernah ada. Kulihat bangku-bangku berserakan. Alat-alat musik yang rusak, keadaan gedung yang tak lazim. Di manakah engkau?

Pernahkah kau berpikir, aku sanggup menunggumu hingga detik ini? Ya, aku menunggumu, di gedung itu. Gedung tempat kita akan bertemu, gedung tempat kita berjanji dahulu, Sayang. Tahun-tahun kulewati, hingga kini ku temui dirimu sekali lagi.

Aku bertepuk tangan setiap lagumu selesai, rasanya mataku akan mengeluarkan air mata, tetapi tak satu pun air mata yang keluar. Hanya rasa rindu, hanya rasa ingin memelukmu yang begitu dalam kurasakan hingga menghujam jantungku. Dengan satu hentakan, tirai merah itu tertutup. Kemudian, para konglomerat dan pejabat-pejabat pulang dengan senyum yang merekah, puas dengan pertunjukanmu. Sadarkah kau bahwa permainanmu itu dapat membius semua orang dan wajahmu dapat membius seluruh kaum hawa? Termasuk aku, ya termasuk aku.

Hei, apakah kau masih mengingatku? Apakah kau masih mengenangku? Apakah kau tak melupakanku? Aku menginginkanmu sekali lagi, di dalam hidupku. Tetapi aku sadar, aku tak mungkin bersamamu, aku tak bisa menginginkanmu, karena aku tak memiliki kehidupan lagi selayaknya dirimu kini.

Noel Ulrich

Tepuk tangan penonton membuat aku terkesima. Aku sudah lama tak kembali ke negara asalku. Tempat aku dilahirkan, tempat aku dibesarkan dan tempat aku bertemu dengan cinta pertamaku.

Ah, dia. Kemana ia kini? Aku telah mencarinya selama belasan tahun. Belajar musik hanya bisa memenuhi janjiku. Tapi nyatanya, belasan tahun aku berkelana dan berkunjung ke seluruh dunia hanya sendiri, tanpa dirinya.

Setelah insiden yang terjadi beberapa belas tahun yang lalu, aku dan seluruh keluargaku pindah ke sebuah kota di Australia. Aku masih ingat waktu kejadian itu berlangsung, aku memberontak dan memaksa bertemu dengannya. Kedua orangtuaku memaksaku untuk ikut, tetapi aku tidak mau. Aku ingin ia bersamaku. Aku hanya ingin dia selalu ada di sampingku.

Aku ingat, saat aku berusaha kabur dan mengunjungi rumahnya. Namun aku tak bisa. Aku melihat rumahnya menjadi abu. Habis tak bersisa. Ia pun tak ada di tempat. Dia di mana? Ayah dan Ibuku telah menenangkanku, berkata bahwa mungkin ia juga sudah pergi ke tempat lain untuk berlindung. Tetapi aku percaya, ia akan menungguku.

Aku mencoba menghubunginya berulang kali, aku mencoba bertemu dengannya, mencoba mengajaknya ikut bersamaku. Namun telepon selulernya tak dapat kuhubungi. Hingga akhirnya aku mau tak mau harus meninggalkan kisah ini begitu saja.

Tetapi bukan berarti aku benar-benar menginggalkan kisah kami begitu saja. Aku tau suatu hari kami pasti bertemu. Ia pasti akan ada lagi di sini. Ia pasti tak akan jauh dariku.

Aku berjalan perlahan menuju ruang ganti di belakang panggung. Semua kru menyelamatiku, mengatakan aku musisi hebat dan berbakat. Tetapi semua pujian itu tak akan sama dengan pujian darinya. Aku masih dapat mendeskripsikannya dengan jelas, saat itu hari pertama kami masuk sekolah dan ia adalah adik kelasku. Saat itu sudah jam pulang sekolah dan aku secara sembunyi-sembunyi menuju aula di sekolah untuk bermain gitar.

Jujur, aku menyukai musik. Hanya saja, banyak teman-temanku beranggapan bahwa musik hanyalah untuk laki-laki yang kutu buku. Walaupun aku menentang hal itu, namun aku tetap tak bisa menunjukan bahwa aku menyukai musik.

Hingga pada suatu hari, saat siang itu aku sedang duduk dan memainkan nada, seorang anak perempuan tiba-tiba datang sambil bertepuk tangan, “Wah, hebat sekali.. Boleh tidak kamu mengajari aku?”

Wajahnya yang polos dengan ekspresi kekagumannya. Aku tak dapat menjelaskannya dengan kata-kata. Aku yang selalu mengikat diriku dengan berorientasi pada prestasi, kini melihat hal yang berbeda.

“Boleh, asal kamu tidak membocorkannya pada orang lain.” Ucapku.

“Loh? Ini kan bakat, kenapa tidak boleh?”

“Pokoknya tidak boleh ya tidak boleh!” Teriakku dengan suara tinggi.

Wajah gadis itu kemudian terlihat takut. Aku sempat merasa bersalah untuk itu. “Maaf,” Ucapku kemudian.

Dia tersenyum, “Tidak apa-apa, jika memang kamu tidak ingin aku membeberkannya juga, aku tidak akan membeberkannya. Itu hakmu dan privasimu.”

“Terimakasih..” Ucapku, “Ke mari, biar aku ajari.”

Ah.. Betapa aku merindukannya, merindukan nafasnya yang hangat ataupun tangannya yang lembut.

Aku duduk di sebuah kursi di ruanganku. Mengambil sebuah foto kenangan kami berdua. Foto itu terlihat kekuningan tetapi wajah manisnya tetap tak tergantikan untukku. Foto di hari ulang tahunnya, ia dengan sebuah gaun hitam sementara aku dengan setelan jas berdiri di sampingnya seraya memeluk pinggangnya yang ramping.

“Foto siapa itu, Noel?” Suara seseorang yang tak lain adalah ayahku membuyarkan lamunanku dan seisi anganku.

Aku menarik nafas panjang. “Ini, Foto Kayra,” Ucapku menunjukan foto itu


Kayra Tanuwidjaja

Aku mengikutimu hingga ke belakang panggung. Hari ini akan jadi hari terakhirku di sini, untuk melihatmu. Aku ingin melihatmu lebih dekat, meskipun engkau tak akan pernah bisa melihatku. Aku melihatmu tengah duduk di atas sebuah kursi bundar, seorang pria berkacamata menghampiri dirimu. Nampaknya ia adalah ayahmu. Aku pernah melihatnya di foto waktu itu. Bagaimana kabarmu dan ayahmu? Aku masih ingat saat kau bertengkar dengannya. Saat itu kau selalu saja mengomel-ngomel dengan kata-kata yang tidak jelas.

Apakah kalian sudah berbaikan? Aku harap kamu akan baik-baik saja.

“Ini, foto Kayra.”

Aku melonjak ketika namaku keluar dari mulutmu. Ya, terucap dengan jelas dari bibirmu itu.

“Kayra?” Tanya pria itu tak percaya, matanya menunjukan kegeraman yang luar biasa, “Sudah berapa kali Ayah katakan kepadamu, lupakan Kayra, kau harus menikah dengan Ernest, kau tau itu kan?”

“Tapi, Ayah…” Ucapnya terbata, “Aku mencintai Kayra, aku masih mencintainya.”

“Kayra itu sudah mati! Kau tau itu..!”

Aku mengejang, tubuhku kemudian tersungkur. Aku telah mati, ya.. aku telah meninggal. Kini sudah jelas semua. Alasan mengapa kamu tak dapat melihatku. Alasan aku tak mungkin dapat bersatu denganmu. Tetapi di tengah kemelut itu, aku tersenyum, kau masih mencintaiku, dan aku masih mencintaiku.

Suara menggelegar terdengar, aku tau dengan pasti kini waktuku sudah habis, karena aku telah mengetahui semuanya tentang keadaanku kini. Lonceng berdentang, tubuhku tertarik dengan hebat. Aku menoleh, sekali lagi menatap wajahmu. Dengar aku, kasih. Aku akan selalu di sini dan akan menemanimu di dalam hatimu.



Dan Beginilah Aku Mencintaimu


Jika engkau tak mampu memahami bagaimana aku mencintaimu

Bayangkan aku sebagai semilir angin,
yang tak pernah memintamu menahannya dalam pelukan

Bayangkan aku sebagai cahaya
Di setiap engkau bertemu kegelapan,
yang tak pernah memintamu datang ketika ia padam

Bayangkan aku sebagai rintik hujan,
yang menyapa jarimu pelan
Tak pernah memintamu untuk memberinya kehangatan

Jika Engkau tak mampu memahami mengapa aku bisa mencintaimu
Bayangkan aku sebagai matahari,
yang sesungguhnya tak pernah mengerti mengapa ia harus terus menyinari bumi
Namun Kau tahu, ia tak akan berhenti



Bayangkan aku sebagai debur ombak,


yang sesungguhnya tak pernah mengerti mengapa ia terus menciumi bebatuan
Meskipun, ia bahagia dalam kebodohannya

Aku pun tak pernah bisa mengerti,
mengapa Kau tak pernah mau mencoba memahami


Yang aku rasa hanya sederhana
Sesederhana hujan memaknai kepedihan, ketika matahari pergi
Sesederhana sunyi, ketika aku lelah bernyanyi

Sesederhana mimpi, ketika aku lelah menanti

- Amanta Ayu, Sa

Aku Suka Hujan



Hujan membersamai langkah kita

Butir-butirnya yang semakin menderas,

Memacu lari kecil kita


Aku suka hujan…

Bersama hujanlah kita berbincang tentang kenangan

Kau dan aku suka bercengkrama dengan hujan


Aku suka hujan…

Dari tiap butirnya aku belajar tentang kerinduan

Aku suka hujan…

Lalu, kau???


Masihkah menyimpan kesukaan yang sama???

Saat raga kita masih bersisian,

Saat celoteh kita masih berkutat dengan kenangan yang dibawa hujan,

Saat kau dan aku tak pernah disesaki rindu yang tak pasti…


Aku suka hujan…

Dan harapku, kau pun sama

- Amanta Ayu, Sa

Kamis, 02 Agustus 2012

Untukmu Anak-Anak Kesepian



Mungkin tidak banyak yang bisa kau utarakan dengan kata-kata
Mungkin engkau hanya terdiam dalam tekanan
Mungkin engkau mencari jawab dalam hatimu dengan pikirmu
Mungkin juga engkau telah menyerah dengan keadaan, berpasrah pada ketidaktentuan
Mungkin engkau terlalu kosong untuk mengerti
Mungkin engkau terlalu rapuh untuk sekedar peduli
Mungkin engkau terlalu bosan mendengar segala jawab mereka yang ternyata tidak menjawab kebutuhanmu
Mungkin engkau terlalu  lelah mencari, tapi tidak banyak yang berhasil kau temukan
Mungkin engkau sudah terlalu penuh dengan kecewa

Biar aku beri tahu kau sesuatu tentang kesepian.

Bukan hening. Bukan sendiri. Bukan senyap. Bukan gelap.
Bukan juga gaduh yang dicari. Tidak keramaian yang mendamaikan.
Karena kosong. Hampa. Tidak bisa merasakan. Karena itu.
Bukan humor, bukan hadiah, bukan pujian yang mampu mengisi.

Itu kasih.
Mampu membuatmu menerima keadaan
Itu kasih, memampukanmu tersenyum disaat terabaikan
Dia membuatmu merasakan gairah, dia membuatmu mengerti tanpa peduli dengan alasan
Dia membuatmu menerima tanpa banyak diberi
Membuatmu puas melihat orang lain tertawa, walau kau telah tercampakkan

Kasih.
Dia memampukanmu mendengar, sekalipun tidak banyak  yang mau mendengar  teriakmu
Dia memberikan keperkasaan, menjadikan bahumu tempat kokoh bagi orang lain untuk meletakan kepala dalam tangis. Sekalipun, tidak banyak yang melihat engkau begitu  terluka.
Memberikanmu kesabaran, sekalipun engkau muak dengan segala kehipokritan mereka
Kasih, dia memberikanmu kerelaan sekalipun mereka hanya memanfaatkanmu. Tidak melihatmu sebagai subjek. Hanya objek.

Anak-anak kesepian.
Dipenuhilah hatimu dengan kasih. Dengan sukacita.
Biar dunia dengan tawanya meninggalkanmu.
Biar dunia tidak menghiraukan dukamu dan mencemooh sukacitamu.
Biar saja mereka tidak memperhitungkanmu dan menjadikan mu pilihan terakhir.
Biar saja dunia mengacuhkanmu dan tidak memberikanmu tempat yang layak.
Biar saja mereka dengan dunia ini melakukan kesenangannya.

Tapi anak-anak kesepian, isilah hatimu dengan kasih.
Kuatkan ia dengan kasih.
Untukmu, anak-anak kesepian. Biarkan engkau tersenyum indah karena engkau memiliki kasih. Yang dunia tolak daripadamu.
Kasih akan kembali padamu anak-anak kesepian, dengan kesempurnaanya membawamu pada Penciptamu.

- Amanta Ayu, Sa

Broken



Pa, Ma...
Dari dulu aku tidak (pernah) mengerti kenapa kalian suka sekali berteriak seperti penonton sepak bola yang menyemangati team kesayangannya? Kalau kalian begitu suka dengan pertandingan sepak bola kenapa kalian tidak pergi ke lapangan sepak bola saja dan berteriak sepuas-puasnya di sana, alih-alih melakukannya di rumah? Bukankah akan lebih puas melakukannya di lapangan sepak bola bersama dengan suporter yang lain daripada harus malu karena diprotes tetangga kita? Hal itu akan terasa lebih baik bagi kalian apalagi jika kalian mempunyai kebiasaan untuk melakukannya di malam hari. Kalian juga tidak harus bersaing dengan suara musik yang kuputar keras-keras untuk menutupi suara kalian karena tangan yang menempel di telingaku tidak cukup untuk meredam perdebatan kalian yang terdengar sangat seru.
Lagipula aku sudah bosan melakukan rutinitasku untuk duduk di lantai di sudut kamarku dengan tangan yang melekat erat di telingaku. Dan tenggorokanku juga merasa lelah mengeluarkan teriakan berbentuk nyanyian yang berlomba dengan suara musik di kamarku. Meskipun suara nyanyianku yang jelek sudah begitu nyaring, aku masih tidak mengerti kenapa suara kalian masih terdengar?? Terlalu tajamkah pendengaranku??

Pa, Ma...
Sepertinya aku adalah anak yang cukup beruntung. Jika orang lain perlu jauh-jauh datang ke daerah lain untuk menyaksikanCrop Circle ─ tempat pendaratan UFO ─, aku dapat melihatnya hampir tiap hari. Aku hanya perlu keluar dari kamar untuk melihat piring-piring yang beterbangan di rumah kita.
Bila ada orang yang mengatakan Crop Circle itu bentuknya simetris, yakinlah itu tidak benar. Buktinya tempat pendaratan UFO di rumahku tidak simetris. Hasilnya berserakan menjadi kepingan yang tidak jelas bentuknya di lantai rumahku. Kalau ada yang tidak percaya, datang saja ke rumahku.
Mungkin kita memang harus mengundang orang-orang yang penasaran ke rumah kita. Apalagi jika ada yang ingin mengetahui kebenaran tentang keberadaan UFO. Bila orang lain sibuk mengabadikan Crop Circle lewat foto sebagai kenang-kenangan, aku tidak membutuhkan kamera untuk melakukannya karena semuanya tersimpan sangat jelas di memoriku. Lagipula UFO amat suka lalu lalang di rumahku, jadi aku dapat sering-sering menontonnya terutama saat melakukan pendaratan yang disertai dengan bunyi “PRANG” di atas lantai rumahku. Aku tidak tahu kenapa tetapi orang tuaku senang bermain dengan UFO dan sebagai anaknya aku tidak punya pilihan lain selain berdiri dan melihatnya. Orang-orang akan merasa takjub saat melihat UFO, sedangkan aku...? Hmm... Pa, Ma menurut kalian apa yang kurasakan? Pernahkan kalian memikirkannya sebelum bermain UFO??
Pa, Ma...
Entah sejak kapan rumah kita berubah menjadi arena tinju. Kalian berdua menjadi petinju tanpa sarung tangan, sementara aku berperan ganda yaitu sebagai penonton sekaligus merangkap jadi wasit. Sama seperti pertandingan tinju yang biasa kulihat di televisi dimana sang petinju berkelahi dengan lawannya, kalian juga melakukan hal yang sama. Bedanya adalah alih-alih menggunakan tangan untuk meninju lawan, kalian melakukannya dengan mulut. Yah, meskipun terkadang kalian menggunakan tangan juga, tetapi kalian lebih banyak menggunakan kata-kata untuk memukul satu sama lain. Bila petinju tidak hanya menggunakan tangan, melainkan juga strategi saat bertempur di atas ring, kalian menggunakan amarah yang meledak-ledak sebagai sumber kekuatan kalian saat baku hantam di dalam ring tanpa mempedulikanku sebagai penontonnya.
Peranku sebagai penonton hanyalah menyaksikan pertandingan dimana kalian sebagai tokoh utamanya. Sedangkan sebagai wasit, aku berusaha melerai kalian. Tujuanku adalah untuk memisahkan pertengkaran kalian dan menghentikannya. Namun, hal itu percuma dilakukan karena kalian terlalu sibuk saling menyerang tanpa menyadari pergantian ronde atau menghargai keberadaaanku di sana. Akhirnya aku cuma bisa melakukan satu peran yaitu sebagai penonton. Aku cuma bisa menutup kupingku sembari melihat kalian saling menghancurkan atau masuk ke kamarku dan berbaring telungkup di atas tempat tidur dengan bantal yang menutupi kepalaku. Aku tidak berencana mengeluarkannya, namun... entah kenapa sepraiku selalu basah terkena tumpahan air asin yang berasal dari mataku...

Pa, Ma...
Aku tahu kalian sibuk. Saking sibuknya kalian selalu mengatakan keburukan satu sama lain di hadapanku. Bahkan sekarang itu sudah menjadi hobi kalian berdua untuk menjelekkan satu sama lain. Karena kau terus mengulanginya padaku, aku jadi ingin tahu, apakah rasanya menyenangkan mengatakan hal-hal yang tidak baik tentang orang lain apalagi kalau orang lain itu adalah orang yang dekat dengan kita?
Kalian boleh saja mengatakan hal yang kalian tidak suka, tapi melakukannya di hadapanku... Yang benar saja?! Pernahkah kalian berpikir sebelum mengatakannya bahwa hal-hal yang kalian ucapkan dapat menimbulkan rasa bingung dan konflik pada diriku? Pernahkah?? Atau yang kalian pikirkan hanyalah bagaimana mengeluarkan uneg-uneg kalian untuk membuat diri kalian sendiri merasa lega tanpa memikirkan akibatnya??

Pa, Ma...
Aku tidak paham bagaimana bisa ada begitu banyak pertanyaan yang berlari memutari kepalaku. Sebanyak apapun kupikir, namun jawabannya masih saja tidak kuketahui. Aku punya sederet daftar pertanyaan yang ingin kutanyakan pada kalian.
Dimulai dari... Mengapa harus bersatu jika memang tidak bisa menyatu? Mengapa masih bersama bila memang tidak ada yang sama? Mengapa masih bertahan jika tidak ada yang menahan? Mengapa masih satu rumah jika tidak ada yang mau mengalah? Mengapa menjadi orang dewasa bila memang tidak dapat bersikap dewasa?
Pertanyaan masih senang berkeliling di pikiranku dan  tetap tidak dapat dimengerti. Kenapa harus mengatakan keburukkan satu sama lain? Kenapa harus terus berkelahi? Dari mana kalian belajar menjadi seperti itu?? Apakah kalian senang meniru wakil rakyat yang pernah bertengkar saat sidang di gedung pemerintah? Apakah kalian suka mengadaptasi perdebatan yang dilakukan orang-orang pemerintahan? Atau kalian belajar dari pihak oposisi untuk menjatuhkan satu sama lain??
Semakin kutanyakan semakin menimbulkan pertanyaan. Tidak ada habisnya. Tidakkah kalian ingat yang menyatukan kalian di awal? Tidakkah kalian ingat persamaan yang kalian miliki dulu? Bukanlah lebih menyenangkan tertawa bersama dibanding bertengkar bersama? Bukankah mengalah terasa lebih enak dibanding menyalahkan? Ataukah pendapatku barusan itu salah??

Pa, Ma...
Terima kasih karena telah melahirkanku. Terima kasih untuk membuatku menyadari bahwa dunia ini tidak seindah itu. Terima kasih telah membenarkan kata-kata orang bahwa bumi ini memang tempat yang buruk dan mengerikan. Terima kasih karena membuatku paham mengapa ada begitu banyak orang yang berusaha mengakhiri hidup mereka.
Terima kasih untuk membuatku sangat takut sehingga aku akan sangat ekstra berhati-hati dalam memilih pasangan hidup. Terima kasih karena telah membuatku sulit untuk percaya kepada orang lain sehingga aku akan berpikir triliunan kali sebelum memutuskan mengarungi sebuah bahtera rumah tangga dengan pasanganku nanti. Terima kasih sebab aku sudah mempelajari untuk takut memiliki anak karena itu membuatku menyiapkan diri untuk bersikap lebih baik dan bijaksana saat memiliki anak nanti sehingga dia tidak akan pernah mengalami apa yang telah kualami.

- Amanta Ayu, Sa