Senin, 25 Maret 2013

Kalau Kamu Membaca Ini


Kalau kamu membaca ini, kamu pasti mengerti rasanya rindu, tapi tidak bisa mengatakannya kepadamu.
 
Baiklah, mungkin bukan rindu tentangmu (kamu sering mengatakan itu), tapi rindu tentang kehangatan perbincangan kita. Bukan orangnya. Kalau memang iya, kalau memang aku hanya rindu peristiwanya dan bukan orangnya, bukan kamu, bisakah kamu datang dan kita berbincang lagi lain kali? Aku berjanji tidak akan menyinggung tentang kita. Kita adalah masa lalu. Jadi, memang tidak sebaiknya hidup di situ.
 
Mungkin, kita akan berbincang saja mengenang cerita kita. Tentang semua tawa yang sudah kita lewati bersama, tentang semua pertengkaran yang sudah membuat kita saling tidak mau bertegur sapa, tentang film-film yang pernah kita tonton bersama, lalu menertawakan semuanya.

Jangan khawatir. Aku akan menjaga hatiku untuk tidak jatuh cinta lagi kepadamu, begitu juga seharusnya kamu.
 
Kita akan bertemu sebagai seseorang yang hanya sama-sama rindu dengan perbincangan kita, bukan orangnya, bukan hatinya.
 
Bisakah kita melakukan itu kapan-kapan?

- Amanta Ayu, Sa

B.a.h.a.g.i.a


Mungkin bahagia itu adalah meski hanya makan tempe, tapi kita bisa menikmatinya.
Mungkin bahagia itu adalah ketika terjebak macet di tengah jalan, lalu karena tidak ada yang bisa dilakukan, kita menyetel musik, bernyanyi, dan bersenang-senang di tengah kemacetan.
Mungkin bahagia itu adalah ketika terjadi hujan saat kita mau pergi keluar. Tapi kemudian, kita berpesta di dalam rumah meski tidak jadi keluar.
Mungkin bahagia itu adalah ketika kita mampu melepaskan.
Mungkin bahagia itu adalah ketika kita menginginkan sesuatu dan berhasil mendapatkannya.

Mungkin bahagia itu adalah ketika kita sedang kusut, lalu pergi ke pantai, melupakan sejenak semua kekusutan, dan benar-benar menikmati pantai.
Mungkin bahagia itu adalah kita sendiri. Ketika mampu menikmati.

Mungkin bahagia itu adalah ketika kita bisa menghitung apa saja hal yang sudah diberikan Tuhan dan yang belum, lalu menyadari bahwa lebih banyak yang diberikan daripada yang belum.
Lalu kita tersenyum.

Mungkin bahagia bukanlah peristiwa, atau bersama siapa.
Mungkin bahagia adalah cara kita memandang sesuatu dan bagaimana membuat apa pun menjadi lebih menyenangkan.
Fokus kepada apa yang bisa kita lakukan daripada fokus pada peristiwa buruknya.

Mungkin.

- Amanta Ayu, Sa

Dua Orang yang 'Tidak Bisa' Saling Meninggalkan



Mungkin lebih baik memang seperti ini. Kita masih saling melindungi meski tak saling memiliki.

Saling memperhatikan meski sudah berjauhan.

Saling menguatkan dengan tanpa bergenggaman tangan.

Saling mendoakan meski tak saling berhadapan.*
 
Saling menertawakan kebodohan-kebodohan yang pernah kita buat, yang selamanya akan kita rindukan.

Saling menyemangati meski harus tahu batas diri.*
 
Saling mengisi meski sudah tak boleh lagi melibatkan hati.

(Semoga kamu tidak tahu, pada saat menuliskan "Tak boleh lagi melibatkan hati" tadi, rasanya pahit setengah mati.)
 
Karena kalaupun tidak bisa bersama, setidaknya kita berdua jangan saling memberi luka.

- Amanta Ayu, Sa